BERITA, SPORTS

Richard Mainaky Percaya PraMel Bisa Raih Medali di Olimpiade

Richard Mainaky Percaya PraMel Bisa Raih Medali di Olimpiade - iMSPORT.TV

iMSPORT.TV – Pelatih Ganda Campuran Indonesia, Richard Mainaky, Percaya pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani Juara All England 2020, mampu medali emas di Olimpiade tahun depan.

Gelar All England 2020 yang diraih Maret lalu menjadi salah satu dasar kepercayaan diri Richard. Selain itu menurutnya, pasangan ini memiliki karisma untuk meraih medali di ajang empat tahunan paling bergengsi.

Sejak Olimpiade 2000 di Sydney, sektor itu begitu sering menyumbangkan medali buat kontingen Indonesia. hal tersebut diawali oleh :

  • Tri Kusharjanto/Minarti Timur    (perak Olimpiade 2000)
  • Nova Widianto/Liliyana Natsir   (perak Olimpiade Beijing 2008)
  • Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir  (emas Olimpiade Rio 2016)

Bahkan, Praveen/Debby (Susanto) dulu gagal pada perempat final Olimpiade Rio 2016 karena bertemu teman sendiri. Makanya, saya punya keyakinan nanti Praveen/Melati minimal bisa raih medali,” papar Richard kemarin.

So far, kami lihat dulu perkembangannya,” ungkap pelatih berusia 55 tahun tersebut. dilansir dari Jawapos.com

Ganda Campuran Indonesia Praveen/Melati (PraMel) saat ini mampu bertengger di peringkat empat dunia, pasangan yang memulai debut pada 2018 ini diharapkan mampu mempertahankan posisi tersebut, ungkap Pelatih ganda campuran Indonesia Richard Mainaky.

Richard Mainaky Percaya PraMel Bisa Raih Medali di Olimpiade

Lihat dulu jadwal kualifikasi dan kejuaraan apa lagi yang akan diikuti. Kalau bisa meraih beberapa gelar, mungkin bisa naik ke peringkat ketiga,” jelas Richard.

Di kalangan badminton lovers, ada mitos bahwa juara All England biasanya tidak bisa meraih medali Olimpiade di tahun yang sama. Kutukan itu pernah dialami Tontowi/Liliyana. Pasangan yang akrab disapa Owi/Butet tersebut menjuarai All England 2012. Nah, pada Olimpiade London, mereka gagal meraih medali.

Selama saya melatih mitos itu tidak pernah ada dalam benak saya. Dulu kan ada juga mitos, katanya All England itu sangar. Tetapi, saya bisa mengantar Owi/Butet hat-trick. Sampai sekarang, selama saya jadi pelatih, sudah ada lima gelar,” papar Richard.

Nggak pernah saya memikirkan itu (mitos),” tambahnya, lantas tertawa.

Presiden BWF Kekeh Kembalikan Format Skor 11×5

Di sisi lain, Melati mengatakan, dengan mundurnya Olimpiade, dirinya memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Dia tidak khawatir peak performance-nya dan Praveen akan lewat setelah menjuarai All England.

Dilihat dari situasi seperti ini, ya berpikir positif saja. Semua pemain juga pasti kena. Kalau tidak ada virus, mungkin bisa sesuai rencana,” ucap Melati.

Pemain juga berusaha memetik sisi positif dari ditundanya Olimpiade. Dia bisa memperbaiki banyak hal. Sebab, meski juara All England, secara penampilan dia dan Praveen belum konsisten.

Tentu, saya bisa bersiap lebih siap lagi. Ini bakal jadi Olimpiade saya yang pertama. Perencanaan banyak ditunda memang. Sama saja sebenarnya. Jalankan saja,” lanjutnya.

Seperti sang pelatih, Melati menanggapi dengan tenang mitos juara All England.

Olimpiade mundur tahun depan. Jadi, ibaratnya kutukan terlewat kan,” kata Melati.

Tapi, itu cuma mitos. Balik lagi dengan usaha dan takdir yang Di Atas. Kalau rezeki kan enggak ke mana-mana,” tambah pemain binaan PB Djarum Kudus tersebut. (amr)

Baca Juga :

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *