iMSPORT.TV – Kisah Hang Tuah, Ratu bulu tangkis China yang memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan menetap di Tanah Air, menarik untuk dibahas.
Siapa sangka, pebulu tangkis yang dikenal sebagai pesaing legenda Tanah Air, Susy Susanti, justru memilih menjadi bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia.
Huang Hua bukan pemain sembarangan. Di masa jayanya, ia adalah pilar utama tim China yang sukses merengkuh gelar juara Piala Uber 1990 dan 1992. Koleksi prestasinya pun mentereng, termasuk raihan medali perunggu di Asian Games 1990 serta Olimpiade Barcelona 1992.
Kisah Pebulu Tangkis Huang Yaqiong, Diwarnai Tangis Kerinduan di Asrama hingga Puncak Podium Dunia
Sekitar tahun 1980-an, seorang gadis kecil asal Nanning, Guangxi, China, belum mengerti betul apa itu olahraga bulu tangkis.
“Bulu tangkis itu apa ya?” celoteh gadis tersebut kepada gurunya kala itu.
Mendengar ucapan muridnya, sang guru lantas memperkenalkan bulu tangkis padanya. Kata-kata gurunya itu hingga saat ini masih membekas di ingatan Huang Hua (48).
Huang tak menyangka apa yang diceritakan gurunya itu bisa memotivasi dia hingga menjadi pebulu tangkis andal China pada era 90-an.
Kehebatan Huang dalam bermain bulu tangkis terdengar ke seantero dunia hingga Indonesia. Dia dikenal sebagai salah satu rival terberat pebulu tangkis putri andalan Indonesia, Susy Susanti, kala itu.
Huang Hua tercatat tiga kali, kalahkan Susy Susanti dalam 7 laga yang pernah dilalui. Huang dan Susy kerap bertemu di laga-laga pamungkas ajang prestisius, seperti All England dan Olimpiade Barcelona 1992.
Rivalitas antara Huang Hua dan Susy mulai membara sejak akhir dekade 1980-an. Dalam catatan sejarah, Huang Hua sempat beberapa kali memberikan kekalahan pahit bagi Susy, termasuk saat ia menundukkan jagoan Indonesia tersebut di final Indonesia Open 1989 dan Japan Open 1991.
Susy sendiri bahkan mengakui bahwa Huang Hua, salah satu lawan tersulit yang pernah ia hadapi, terutama saat pertemuan mereka di All England 1990. Namun, momen paling emosional bagi kedua pemain terjadi di semifinal Olimpiade Barcelona 1992.
Kala itu, Susy Susanti tampil luar biasa dan berhasil membalas kekalahan-kekalahan sebelumnya dengan skor telak 11-4 dan 11-1. Kemenangan atas Huang Hua inilah yang menjadi pintu gerbang bagi Susy untuk meraih medali emas pertama bagi Indonesia, setelah menumbangkan Bang Soo-hyun di partai final
Namun, di puncak kariernya, Huang Hua justru memutuskan pensiun. Dia lalu menerima pinangan pria Indonesia asal Klaten, Jawa Tengah. Dari situ, Huang mantap memutuskan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) 25 tahun lalu.
Dia bercerita bagaimana akhirnya memilih menjadi WNI usai bertemu dengan Tjandra Budi Darmawan, suaminya. Tepatnya di Semarang, usai gelaran Indonesia Open 1992, Huang Hua diajak pelatihnya mengunjungi Klaten.
“Saya sudah selesai dengan pertandingan. Pelatih saya kebetulan tante dia (suami). Setiap tahun tante dia, pasti berkunjung ke Klaten,” kisah dia.
Pertemuan Huang dan Tjandra terjadi pada tahun itu. Keduanya saat itu sedang berkunjung ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Siapa sangka, momen tersebut merupakan awal mereka saling mengenal lebih dalam.
Ketika di Borobudur, Huang Hua sempat tertarik dengan sebuah mitos. Tangannya merogoh ke dalam stupa dan berhasil memegang patung yang ada di dalamnya.
“Katanya kalau bisa dipegang dapat jodoh. Ternyata jodohnya di sini,” ungkap Huang Hua menceritakan saat kunjungannya ke Borobudur 23 September 1992.
Selepas momen tersebut, komunikasi Huang dan Tjandra semakin intens. Huang menemukan rasa nyaman dan aman dalam diri Tjandra. Dia pun menjadi akrab dengan keluarga Tjandra. Hingga pada 1993, mereka resmi menikah.
Ketika memutuskan menikah dengan WNI, Huang Hua memilih untuk mengikuti jejak sang suami dan langsung menjadi WNI. Dia juga keluar dari tim nasional bulu tangkis China.
“Langsung WNI, waktu itu mikir kalau ikut suami saja. Lebih mudah, jadi kalau besok ke mana-mana tidak repot,” jelas dia.
Berpamitan dengan Timnas China
Jauh-jauh hari sebelum pensiun, Huang Hua sudah berpamitan dengan tim nasional China untuk mundur dari olahraga yang telah membesarkan namanya itu.
“Begitu saya rencana married sama dia, sudah minta izin ke tim nasional mundur dari bulu tangkis,” beber Huang.
- Tak Puas Jadi Pelapis, Ivar Jenner Bidik Peran Utama di Dewa United
- 5 Poin Klarifikasi PSSI: Fakta di Balik Polemik Paspor Pemain Indonesia di Belanda
- Radja Nainggolan Sesali Tak Pilih Timnas Indonesia
Huang Hua, Ratu Bulu Tangkis China, Menjadi WNI dan Menetap di Indonesia
“Selesai Olimpiade (Barcelona 1992), pelatih saya pensiun. Itu juga salah satu sebabnya saya akhirnya pensiun di usia 24,” ungkap dia.
Selain mengikuti suami, Huang mengungkapkan, salah satu faktor pendorong dia pensiun adalah, cedera lutut yang dialaminya. Praktis, dia pun menyudahi kiprahnya di dunia bulu tangkis, di saat usianya masih 24 tahun. Kala itu, Huang sendiri sedang berada pada masa keemasannya.
Usai menikah, Huang Hua bersama suami tidak lantas menetap di Klaten. Selama satu tahun, mereka terlebih dahulu tinggal di Amerika Serikat. Saat itu, Huang Hua memutuskan untuk belajar bahasa Inggris terlebih dahulu. Baru sekitar tahun 1994 mereka berdua menginjakkan kaki ke Tanah Air.
“Pertama, kalau datang susah, datang ke sini jauh. Hawa, makanan beda, tidak punya teman, kendala bahasa,” keluhnya.
Perlahan, kemampuan bahasa Indonesia Huang makin mahir. Untuk bisa menjadi ahli, Huang sempat mengundang guru untuk memberikan pelajaran bahasa Indonesia. Tinggal di Klaten, yang notabene masyarakatnya mayoritas bertutur bahasa Jawa, membuat Huang kesulitan berkomunikasi.
“Bahasa Indonesia tidak terlalu susah saya belajar sama mbak-e dan guru. Bahasa Jawa tidak pernah belajar, cuma saya dengar, tahu sitik-sitik,” ujarnya sembari tersenyum.
“Saya mengurus rumah tangga. Saya cuma ngikutin aja (bisnis suami) soalnya bahasa saya pas-pasaan untuk berbisnis,” tuturnya, menceritakan profesi suaminya sebagai pebisnis properti.
.
Pernah suatu hari, Huang ingin agar ketiga anaknya ikut terjun ke bulu tangkis. Namun, ketiga anak Huang ternyata tak begitu berminat.
“Sempat saya ajak main waktu umur TK, tapi mungkin caranya enggak benar. Saya disiplin dan galak mereka lama-lama enggak jadi senang dengan bulu tangkis,” sebutnya.
Terlepas dari lika-liku kehidupannya setelah pensiun dari dunia bulu tangkis, Huang merasa jatuh cinta dengan Indonesia karena dia mendapatkan suami yang sayang dan baik kepadanya.
Kini, di usianya yang menginjak 56 tahun, Huang Hua telah resmi menyandang status WNI dan menjalani hari-harinya sebagai ibu dari Michael Tjandra. Meski dahulu berduel habis-habisan di lapangan, hubungan Huang Hua dan Susy Susanti justru mencair menjadi persahabatan yang indah.
Ini terbukti pada medio 2023, saat Susy ke pesta pernikahan putranya Huang Hua, Michael Tjandra. Momen kehangatan tersebut diabadikan Susy melalui akun Instagram pribadinya.
“Senang banget bisa kumpul di hari yang pas ini. Ingat waktu dulu kita pernah berada di satu pertandingan yang cukup sengit karena Huang Hua termasuk lawan terberat saya dulu,” ujar Susy Susanti dalam unggahannya.
Pertemuan tersebut menjadi bukti nyata bahwa rivalitas panas di masa lalu dapat berubah menjadi persaudaraan yang abadi.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
