iMSPORT.TV – Suporter Jepang kembali mencuri perhatian dunia setelah aksi mereka membersihkan tribun Stadion Dallas usai laga melawan Belanda pada Piala Dunia 2026, viral di media sosial, Senin (15/6/2026) pagi WIB.
Media Amerika Serikat, KFOX14, melaporkan para pendukung Samurai Biru membawa kantong sampah sendiri, memunguti sampah, hingga merapikan kursi penonton setelah pertandingan berakhir.
ESPN juga menulis bahwa pemandangan tersebut sebenarnya bukan hal baru karena suporter Jepang sudah dikenal memiliki kebiasaan membersihkan stadion sejak Piala Dunia 1998 di Prancis.
Tradisi itu bahkan terus terlihat dalam berbagai ajang olahraga besar, termasuk Olimpiade dan pertandingan internasional lain yang melibatkan Jepang.
Founder akun @pemain.keduabelass, Ajik, menilai kebiasaan tersebut sudah menjadi budaya yang melekat pada pendukung Timnas Jepang dan bukan hanya dilakukan saat Piala Dunia.
“Ini sudah menjadi tradisi suporter Jepang di semua pertandingan timnas mereka. Bahkan saat pra-Piala Dunia (kualifikasi) maupun ketika bermain di Gelora Bung Karno (GBK) tahun lalu, mereka juga membersihkan tribun, dan pemainnya membersihkan locker room,” kata Ajik ketika dihubungi Tribunnews pada (15/6/2026) siang WIB.
Menurut Ajik, apa yang dilakukan para suporter Jepang menjadi cerminan yang baik bagi penggemar sepak bola dari negara lain.
Ia mengaku sempat merasakan langsung atmosfer tersebut ketika datang ke Osaka, Jepang, untuk menyaksikan pertandingan Jepang melawan Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.
Ajik mengatakan para pendukung Indonesia yang hadir saat itu secara tidak langsung, ikut terbawa oleh kebiasaan baik yang ditunjukkan suporter tuan rumah.
“Kita ikut bersih-bersih area tribun suporter Indonesia, tertib saat berangkat dan pulang meninggalkan stadion, serta menjaga attitude saat di stadion maupun di luar stadion,” ujarnya.
Piala Dunia 2026; Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang, Bersihin Tribun
Ajik mengaku sebagai pendukung tim lawan, dirinya justru merasa malu apabila tidak mengikuti kebiasaan baik yang ditunjukkan para pendukung Jepang.
Jurnalis yang berbasis di Jepang, Scott McIntyre, kepada BBC pernah mengatakan bahwa, budaya bersih-bersih tersebut bukan hanya bagian dari kultur sepak bola, melainkan juga cerminan budaya masyarakat Jepang secara umum.
Sementara Profesor Sosiologi Universitas Osaka, Scott North, menjelaskan kepada BBC bahwa, kebiasaan tersebut merupakan perpanjangan dari pendidikan di sekolah yang membiasakan anak-anak membersihkan ruang kelas dan lorong sekolah sejak dini.
ESPN mengungkapkan terdapat pepatah Jepang yang berbunyi “Tatsu tori ato wo nigosazu” yang secara sederhana memiliki makna mengembalikan sesuatu seperti saat pertama kali ditemukan.
Pepatah itu senada dengan pendapat Koichi Nakano dari Sophia University kepada Associated Press bahwa para penggemar olahraga di Jepang sejak kecil tidak hanya mendapat pendidikan fisik, tetapi juga pendidikan moral.
Kemudian Barbara Holthus dari German Institute for Japanese Studies di Tokyo juga menyebut masyarakat Jepang dibentuk dengan nilai untuk tidak merepotkan orang lain.
Menurutnya, nilai tersebut akhirnya diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ketika menghadiri pertandingan olahraga.
Ia menilai langkah sederhana yang lebih realistis untuk dilakukan saat ini adalah, mematuhi tata tertib di stadion.
“Sebelum ke gotong royong bersihkan tribun, ikuti dulu saja tata tertib untuk tidak merokok di tribun,” katanya menegaskan.
Apa yang dilakukan suporter Jepang memang terlihat sederhana, tetapi kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan tahun itu menunjukkan bahwa, sportivitas tidak hanya ditunjukkan di atas lapangan, melainkan juga lewat sikap menghormati lingkungan dan orang lain.
(adm/amr)
Berita Olarhaga Lainnya :
