iMSPORT.TV – Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) kembali menunjukkan ketegasannya dalam urusan detail perlengkapan pemain.
Kali ini, tim nasional Norwegia menjadi sorotan, setelah FIFA melarang penggunaan font khusus berbasis huruf rune, pada jersey resmi mereka di ajang Piala Dunia U-20 2025 yang tengah berlangsung di Chili.
Larangan ini bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga menyangkut aturan fundamental yang diatur dalam regulasi perlengkapan FIFA.
Font yang diluncurkan Norwegia pada 2024 lalu sempat mendapat pujian luas, karena dinilai artistik dan sarat makna budaya.
Desainnya terinspirasi dari alfabet rune, simbol kuno Skandinavia, yang memiliki nilai historis dan identitas nasional.
Namun, justru aspek unik inilah yang akhirnya menjadi masalah besar. Ada dua pelanggaran utama yang menjadi dasar larangan.
Pertama, keterbacaan. Menurut FIFA, font rune Norwegia dianggap sulit dibaca dengan jelas, baik oleh wasit, ofisial pertandingan, media, maupun penonton di stadion maupun televisi.
Padahal, nomor punggung dan nama pemain merupakan elemen vital untuk identifikasi selama pertandingan berlangsung.
Kedua, masalah warna. Font tersebut menggunakan kombinasi dua warna – biru dan putih – untuk menambah kesan artistik.
Sayangnya, hal ini melanggar aturan FIFA pasal 7.2.2, yang secara tegas menyebutkan bahwa nomor dan nama di jersey hanya boleh dicetak menggunakan satu warna kontras agar mudah terlihat.
Font Jersey Norwegia ‘Unik’ Sempat Dilarang FIFA
Dengan adanya keputusan FIFA, tim U-20 Norwegia terpaksa menanggalkan identitas baru mereka dan kembali menggunakan font standar keluaran Nike yang dirilis untuk Euro 2024.
Font tersebut memenuhi aturan keterbacaan dan pewarnaan, meski dianggap tidak memiliki kekhasan seperti desain rune.
Situasi ini menimbulkan perdebatan di kalangan pecinta desain sepak bola. Banyak yang menilai FIFA terlalu kaku dan tidak memberi ruang bagi kreativitas tim nasional dalam mengekspresikan identitas budaya melalui seragam.
Namun di sisi lain, aturan ketat memang dibutuhkan, agar kejelasan di lapangan tetap terjaga. Meski dilarang di turnamen resmi FIFA, font rune Norwegia masih bisa digunakan dalam pertandingan persahabatan atau kompetisi di luar pengawasan ketat federasi.
Hal ini membuka kemungkinan tim Skandinavia itu tetap menjaga identitas kultural mereka di laga-laga nonresmi, meski harus tunduk pada regulasi saat tampil di ajang besar seperti Piala Dunia.
Kasus ini menjadi contoh nyata tarik ulur antara kreativitas dan regulasi dalam sepak bola modern. Di satu sisi, federasi dan sponsor ingin memberi kebebasan desain yang bisa memperkuat identitas tim.
Namun di sisi lain, FIFA menegakkan, aturan demi keteraturan teknis dan profesionalisme turname.
Untuk Norwegia, kontroversi ini menjadi catatan tersendiri. Mereka tetap bisa bangga dengan desain rune yang menuai apresiasi global, tapi di turnamen resmi, mereka harus rela kembali ke font klasik.
Sebuah kompromi yang memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, estetika tetap tidak bisa berdiri di atas aturan.
Tapi, di Piala Dunia 2026, alfabet rune tetap menghiasi nomor punggung jersey Nowegia. Tak, apa.
(adm/amr)
Berita Olahraga Lainnya :
