iMSPORT.TV — Ajang balap motor kelas dunia, MotoGP, dikabarkan tengah menggodok perubahan format besar-besaran untuk musim 2027 mendatang. Otoritas MotoGP berpotensi memperkenalkan sesi kualifikasi khusus untuk Sprint Race, sebuah langkah yang dinilai meniru format balapan Formula 1 (F1).
Menurut laporan Motorsport, usulan untuk menggelar sesi kualifikasi terpisah—yang khusus menentukan posisi start (grid) untuk Sprint Race—telah diajukan kepada seluruh pabrikan dan tim yang berlaga di lintasan.
Sebagai pengingat, MotoGP mulai mengadopsi format Sprint Race sejak tahun 2023. Namun, pendekatannya jauh lebih ekstrem dibandingkan F1. Jika F1 baru berencana meningkatkan jumlah Sprint Race menjadi 10 seri pada tahun 2027, MotoGP justru sudah menggelarnya di setiap seri balapan sejak awal (total 22 Sprint Race dalam semusim).
Beban Fisik dan Ancaman Cedera Makin Nyata di MotoGP
Rencana pemisahan sesi kualifikasi ini rupanya langsung memantik sorotan tajam dari arena paddock. Pembalap asal Italia, Fabio Di Giannantonio, secara terbuka mengingatkan pihak penyelenggara agar perubahan format ini tetap mempertimbangkan batas ketahanan fisik dan kesehatan para pembalap.
Pembalap yang akrab disapa Diggia ini menilai, tambahan sesi kualifikasi akan mendongkrak beban kerja pembalap secara drastis, mengingat kalender MotoGP sudah sangat padat dengan 22 seri dalam satu musim.
“Saya sangat menghormati apa yang coba dilakukan MotoGP untuk memberikan kegembiraan sebanyak mungkin kepada para penggemar,” ujar Diggia menanggapi isu tersebut.
“Namun sangat disayangkan, terkadang hal itu sedikit bertentangan dengan kemungkinan menjaga kesehatan pembalap,” lanjutnya memberi peringatan.

Menunggu Ketuk Palu Komisi Grand Prix
Kekhawatiran Diggia sangat beralasan. Jadwal akhir pekan para rider saat ini sudah sangat mencekik. Mereka harus membagi energi dan fokus mulai dari padatnya sesi latihan di lintasan, kewajiban agenda sponsor, hingga tugas melayani wawancara media.
Meski begitu, format Sprint Qualifying ini belum mencapai kata final. Aturan baru tersebut harus melewati proses pengesahan resmi oleh Komisi Grand Prix. Di sisi lain, MotoGP juga punya rekam jejak membatalkan wacana besar, seperti usulan “satu motor per pembalap” yang akhirnya batal terlaksana awal tahun ini.
Terlepas dari polemik seberapa jauh pembalap dilibatkan dalam pengambilan keputusan ini, Diggia memilih untuk tetap profesional dan siap beradaptasi jika aturan tersebut benar-benar diketuk palu.
“Kami mencoba untuk menjalani olahraga ini, jadi mari kita percaya kepada mereka dan mari kita coba. Itu saja,” tutupnya.
(adm/dfd)
Berita Lainnya:
