iMSPORT.TV – Tunggal putra India, Kidambi Srikanth mengaku heran dengan kritik yang beredar terkait penyelenggaraan turnamen BWF India Open 2026 yang digelar sejak 13-18 Januari, di Indira Gandhi Sports Complex, New Delhi, India.
Turnamen BWF World Tour Super 750 ini menjadi ramai perdebatan mengenai kondisi yang terjadi di Indira Gandhi Sports Complex.
Tunggal putra pertama asal India yang menduduki peringkat 1 dunia pada 2018 tersebut, merasa heran dengan salah satu komentar tunggal putri Denmark, Mia Blichfeldt.
Dilansir dari Bolasport, Blichfeldt mengatakan tidak nyaman dengan aspek kesehatan di lapangannya.
Pernah mengalami pengalaman buruk saat sakit setelah tampil di India Open, Blichfeldt belum sepenuhnya puas saat diminta mengomentari kondisi saat ini.
“Saya senang dengan kondisi lapangannya tetapi tidak dengan aspek kesehatannya,” ucap Blichfeldt, dilansir dari Indian Express.
“Lantainya kotor dan ada banyak debu di lapangan-lapangannya. Selain itu ada burung-burung yang berterbangan di dalam arena, ada kotoran burung juga.”
“Sebagai pemain dari Eropa, saya pikir saya lebih sensitif dengan hal-hal semacam ini.”
Kritik dari Blichfeldt, ditanyakan Kidambi Srikanth selaku salah satu veteran tuan rumah yang bertanding di turnamen level 750 tersebut.
“Sejujurnya saya belum benar-benar membaca apa yang dia katakan,” tukas Kidambi.
“Akan tetapi, menurut saya, kondisinya baik-baik saja. Saya tidak benar-benar melihat yang buruk terjadi,” tandasnya.
Menurut Kidambi, perubahan kondisi antar satu negara dengan lainnya merupakan hal yang wajar.
“Saya tidak tahu, saya melihat setiap negara punya kondisi yang berbeda-beda,” kata Kidambi melihat kembali pengalaman tandingnya.
“Di Singapura, anginnya kencang. Di Malaysia, mungkin sedikit lebih mendingan. Di Indonesia, dulu sangat rapat dan (koknya) cepat sebelum revonasi.“
“Setiap negara punya tantangan masing-masing.”
Kidambi Srikanth Tanggapi Kritik India Open 2026: Saya Tidak Melihat yang Buruk
Sementara itu, kritik gelaran turnamen pada India Open 2026, bukan hanya soal lapangan yang kurang bersih saja.
Tunggal putra Denmark, Anders Antonsen, yang memilih absen, menunjuk tingkat polusi yang buruk di kota Delhi sebagai alasan lewat story di Instagram.
Begitu pula dengan ganda putra Korea Selatan, Kang Min-hyuk, yang membagikan video yang menujukkan seekor monyet berjalan di tribune saat dirinya sedang berlatih.
“Apakah binatang bisa masuk dengan bebas?” tulis sang Juara Dunia satu kali.
Perlu diketahui, lapangan tanding dan lapangan latihan di India Open berbeda tempat meski masih dalam satu kompleks.
Arena latihan disediakan di venue sebelumnya, KD. Jadhav Stadium, yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat pertandingan di Indira Gandhi Sports Complex.
Sedangkan tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani menyoroti lapangan yang kotor saat latihan, serta cuaca yang dingin saat bertanding.
“Sangat dingin, agak berangin dan seperti ada kabut atau asap di lapangan yang sedikit mempengaruhi permainan.“
“Bolanya jadi terlihat agak samar,” ucap Putri KW melalui PBSI setelah menjalani pertandingannya kemarin, Selasa (13/1/2026).
Tak mau mengalah, Kidambi juga mengingat kembali pengalamannya saat bertanding di Denmark, dengan insiden mati lampu yang membuatnya harus menunggu 1 jam.
“Prannoy H. S. (tunggal putra India) juga memberi tahu saya …. Dia bermain satu set pada hari pertama dan set keduanya pada hari berikutnya.“
“Jadi hal-hal semacam ini bisa terjadi, hanya saja tidak ada yang melakukannya dengan sengaja. Setiap negara ingin menyelenggarakannya dengan sangat baik.”
“Jadi hal-hal semacam ini sangat jarang terjadi, saya tidak tahu kenapa semua orang mengeluhkannya,” tambahnya.
Menanggapi kejadian ini, Sekretaris Jenderal Asosiasi Bulu Tangkis India (BAI), Sanjay Mishra, berjanji akan segera melakukan perbaikan sebelum hajatan utama pada pertengahan tahun nanti.
India Open 2026 menjadi test event untuk Kejuaraan Dunia 2026 yang dihelat di tempat yang sama pada 17-23 Agustus mendatang.
“Apapun masalah yang muncul pekan ini, kami akan menyelesaikannya sebelum Kejuaraan Dunia,” tukas Mishra.
(amr/adm)
