Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Euforia Gelar Juara Afrika Senegal Akankah Berakhir?

iMSPORT.TV – Timnas Senegal dapat bonus luar biasa dari pemerintah lokal usai memenangi Piala Afrika 2025. Setiap pemain mendapat uang dan sebidang tanah.

Usai tundukkan Maroko 1-0 dalam final yang digelar di Rabat, Minggu (18/1/2026), Sadio Mane dkk pulang ke Dakar, mereka mengadakan parade kemenangan pada Selasa lalu yang dibanjiri oleh rakyat Senegal.

Dalam jumpa pers usai parade trofi, Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye mengumumkan bonus untuk para pemain. Masing-masing akan menerima 75 juta franc CFA atau sekitar 2,2 miliar Rupiah serta sebidang tanah seluas 1.500 meter persegi di daerah pantai.

Tak cuma itu, para staf pelatih juga diberi bonus. Bahkan anggota federasi maupun dari kementerian olahraga yang berangkat ke Maroko bersama tim pun ikut kebagian.

Namun, nampaknya euforia ini agak sedikit mencemaskan. Pasalnya pelatih Timnas Senegal Pape Thiaw tengah berada dalam sorotan tajam, meski berhasil mengantarkan anak asuhnya menjuarai Piala Afrika 2025, keberhasilan tersebut berpotensi dibayangi sanksi disiplin dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

Final Piala Afrika 2025 berakhir dalam suasana panas nan dramatis. Maroko mendapat penalti kontroversial di detik-detik terakhir waktu normal, hal ini memicu amarah dari kubu Senegal yang merasa amat dirugikan setelah gol mereka dianulir sesaat sebelumnya.

Situasi panas itu berubah kacau ketika pelatih Senegal, Pape Thiaw, memerintahkan timnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Laga pun tertunda hampir 20 menit, sebelum Sadio Mane berlari ke ruang ganti untuk membujuk rekan-rekannya kembali ke lapangan dan melanjutkan pertandingan.

Bintang Real Madrid Brahim Diaz akhirnya mendapat kesempatan untuk mengeksekusi penaltinya demi mengantarkan Maroko meraih gelar Piala Afrika pertama sejak 1976. Namun, eksekusi Panenka-nya dapat dengan mudah digagalkan Edouard Mendy, dan memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.

Kebuntuan akhirnya terpecah pada menit ke-94, dan gol tunggal yang dicetak Pape Gueye sudah cukup untuk mengamankan gelar juara Afrika kedua Senegal dalam empat tahun. Senegal taklukkan tuan rumah Maroko dengan skor tipis 1-0.

Thiaw mengakui keputusan tersebut diambil dalam kondisi emosi yang memuncak di tengah panasnya atmosfer final.

Dalam situasi seperti itu, emosi sangat sulit dikendalikan. Saya sempat mengambil keputusan yang keliru, tetapi kemudian saya meminta para pemain untuk kembali,” ucap Thiaw kepada Bein Sports.

Gelar juara Senegal pun dipertanyakan. Menurut regulasi Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), seperti dikutip Express, tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin wasit berisiko didiskualifikasi dari turnamen. Regulasi Piala Afrika pasal 64 menyebutkan:

Jika, dengan alasan apa pun, sebuah tim mengundurkan diri dari kompetisi atau tidak hadir untuk menjalani pertandingan, kecuali dalam keadaan force majeure yang diterima oleh Panitia Penyelenggara, atau menolak melanjutkan pertandingan, atau meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir sesuai waktu normal tanpa izin dari wasit, maka tim tersebut akan dinyatakan kalah dan secara permanen didiskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung.”

Euforia Gelar Juara Afrika Senegal Akankah Berakhir?

Komentator ESPN Ian Darke pun turut mengecam tindakan Senegal di media sosial, dengan menulis di akun X (dulu Twitter) miliknya:

Saya mengagumi Senegal sebagai sebuah tim sepakbola yang hebat, tapi tidak bisa Anda meninggalkan lapangan, menunda laga sampai 17 menit, lalu dinyatakan juara Piala Afrika.”

Harus ada hukuman atas tindakan anarkis ini. Laga ini semestinya digelar ulang atau Maroko dinyatakan pemenang dengan skor 3-0.”

Maroko tempuh langkah hukum?
Sementara pelatih Maroko, Walid Regragui, secara terbuka mengecam tindakan Senegal usai peluit akhir. Ia menyebut insiden tersebut sebagai sesuatu yang “memalukan”.

Pemain Senegal Lamine Camara (kanan) berebut bola dengan pemain Maroko Achraf Hakimi (kiri) dan Bilal El Khannouss di final AFCON/Piala Afrika antara Senegal vs Maroko di Rabat, Maroko, 18 Januari 2026 (c) AP Photo/Themba Hadebe

Citra sepakbola Afrika yang kami tampilkan sungguh memalukan,” ujarnya.

Menghentikan pertandingan lebih dari 10 menit saat seluruh dunia menonton bukanlah sesuatu yang pantas.”

Regragui juga menilai jeda panjang tersebut berpengaruh terhadap kegagalan penalti Diaz.

Jedanya terlalu lama sebelum mengambil penalti, dan itu pasti mengganggunya. Tapi kami tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Kami harus menatap ke depan,” tambahnya.

PSSI-nya Maroko (FRMF) secara resmi mengumumkan akan menempuh jalur hukum terhadap Senegal. Pernyataan FRMF berbunyi:

Federasi Sepakbola Kerajaan Maroko mengumumkan bahwa pihaknya akan menempuh langkah hukum kepada Konfederasi Sepakbola Afrika dan FIFA, terkait aksi meninggalkan lapangan oleh tim nasional Senegal pada final melawan tim nasional Maroko, serta seluruh peristiwa yang menyertainya, menyusul pemberian penalti oleh wasit yang dinilai benar oleh para pakar. Situasi ini berdampak signifikan terhadap jalannya pertandingan dan performa para pemain.”

Di satu sisi, Presiden FIFA Gianni Infantino menilai sikap Senegal dalam final itu “tidak bisa diterima.” Sejauh ini Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) belum mengambil sikap.

Komite Disiplin CAF saat ini sedang memproses kasus tersebut. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi terkait sanksi yang akan dijatuhkan.

CAF dijadwalkan mengumumkan sikap resminya dalam waktu dekat, sementara Senegal masih menikmati euforia gelar juara

(adm/amr)

Berita Olahraga Lainnya :