iMSPORT.TV – Tim bulu tangkis Korea Selatan dan Jepang, berhasil mengamankan gelar juara dalam ajang Badminton Asia Team Championships (BATC) 2026 pada Minggu (8/2/2026).
Jika Korea Selatan sukses menempati podium tertinggi di sektor beregu putra, sementara Jepang mendominasi di kategori beregu putri.
Kemenangan Korea Selatan di sektor putra dipastikan setelah mereka menunjukkan performa konsisten sejak babak penyisihan hingga partai puncak. Keberhasilan ini menjadi catatan penting bagi tim Negeri Gingseng dalam persaingan bulu tangkis tingkat Asia.
“Para pemain telah memberikan kemampuan terbaik mereka sepanjang turnamen ini berlangsung,” ujar Kim Hak-kyun, pelatih kepala tim Korea Selatan, mengutip dari Detik.
“Gelar ini sangat berarti bagi perkembangan regenerasi pemain muda kami ke depannya,” jelas Park Joo-bong, perwakilan manajemen tim Korea Selatan, sebagaimana diberitakan sport.detik.
Di sisi lain, kategori beregu putri Jepang berhasil membawa pulang trofi juara setelah mengungguli lawan-lawannya di babak final. Tim putri Jepang tampil solid dengan mengandalkan kombinasi pemain tunggal yang kuat dan sektor ganda yang stabil.
Turnamen BATC 2026 ini, menjadi ajang bagi negara-negara Asia untuk mengukur kekuatan menjelang kejuaraan beregu dunia lainnya. Hasil ini menempatkan Korea Selatan dan Jepang sebagai kekuatan utama yang patut diwaspadai di sirkuit internasional.
Sementara tim beregu putri Indonesia terhenti di semifinal Badminton Asia Team Championship (BATC) 2026. Tim putri Indonesia takluk 1-3 dari Korea Selatan, kekalahan ini dialami srikandi Merah Putih dalam pertandingan semifinal yang berlangsung pada Sabtu (7/2/2026).
Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang menyumbangkan poin dalam laga ini. Tampil pada partai ketiga, ia berhasil kalahkan Park Ga Eun lewat duel dua gim langsung, skor 21-14 dan 21-13.
BATC 2026: Respons PBSI Soal Performa Tim Indonesia
Langkah tim putri Indonesia terhenti setelah pasangan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi kalah pada partai keempat. Kapten tim yang berpasangan dengan Amallia tersebut menyerah dari Lee Seo Jin/Lee Yeon Woo dengan skor ketat 19-21, 19-21.
Kapten tim beregu putri Indonesia, Siti Fadia Silva Ramadhanti, menyampaikan permohonan maaf atas kegagalan tim melaju ke partai puncak. Ia menyebut lawan tampil lebih tenang saat menghadapi poin-poin kritis di akhir laga.

Meski begitu, Kabid Binpres PP PBSI, Eng Hian mengapresiasi hasil yang diraih tim beregu putri di ajang Badminton Asia Team Championship (BATC) 2026.
“Dari sisi target, saya mengapresiasi pencapaian beregu putri yang berhasil meraih medali perunggu sesuai dengan target yang dicanangkan. Penampilan apik Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dan kembalinya Ester Nurumi Tri Wardoyo dengan performa yang bagus juga menjadi hal positif yang bisa menjadi penilaian dan pertimbangan kami untuk persiapan ke Piala Uber,” ujar Eng Hian dalam rilis PBSI, Minggu (8/2).
Hal berbeda disampaikan Eng Hian terkait hasil yang diraih tim beregu putra. Eng Hian menegaskan tim putra tidak berhasil memenuhi target awal yakni lolos ke partai puncak BATC 2026.
Langkah tim putra Indonesia harus terhenti setelah kalah 3-1 dari tim Jepang pada laga semifinal. Sejumlah partai memang berjalan kompetitif dan memperlihatkan upaya maksimal para pemain Indonesia meski hasil akhir belum berpihak.
“Untuk beregu putra hasil ini tentunya tidak sesuai target, karena target kami, mereka bisa mencapai babak final. Penampilan beberapa pemain belum sesuai harapan, tentunya ini akan menjadi evaluasi untuk mendongkrak performa beregu putra jelang Piala Thomas,” ucap Eng Hian.
“Di luar itu, kredit bagi daya juang dan penampilan tim tunggal putra yang cukup baik. Ubed, Prahdiska Bagas dan Richie semakin menunjukkan kematangan dalam bertanding,” Eng Hiang melanjutkan.

Soal keputusan menurunkan sejumlah pemain muda, Eng Hian beralasan karena partisipasi di BATC 2026 dimanfaatkan untuk persiapan menuju ajang Thomas Cup dan Uber Cup.
“Keikutsertaan di BATC kami manfaatkan sebagai bagian dari persiapan menuju Thomas dan Uber Cup. Karena itu, kami tidak menurunkan full team, melainkan memberi kesempatan lebih besar kepada pemain-pemain muda. Tujuannya, untuk melihat kesiapan mereka di level turnamen beregu internasional, sekaligus sebagai bahan evaluasi sebelum menyusun tim Thomas dan Uber Cup, baik dari sisi performa individu, mental bertanding, maupun strategi tim,” tuturnya.
(adm/amr)
Berita Olahraga Lainnya :
