iMSPORT.TV – BWF World Tour resmi memasuki era baru dengan skala kompetisi yang lebih besar dan ambisius. Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mengonfirmasi 36 turnamen yang akan digelar sepanjang periode (2027–2030) tersebut sebagai bagian dari visi jangka panjang bulu tangkis dunia.
Dari World Tour Finals hingga Super 100, seluruh level kini terintegrasi dalam satu sistem terpadu. Bukan sekedar penambahan jumlah turnamen, melainkan perubahan besar dalam wajah bulutangkis dunia yang lebih padat, lebih komersial, dan jauh lebih kompetitif.
Di satu sisi, kebijakan ini membuka peluang emas bagi negara-negara dengan ekosistem bulutangkis kuat, termasuk Indonesia. Banyaknya turnamen berarti jam terbang atlet akan meningkat, kesempatan mengumpulkan poin ranking makin luas, dan peluang regenerasi bisa dipercepat. Bagi pemain muda, level Super 300 dan Super 100 menjadi jalur realistis untuk “naik panggung” tanpa harus langsung berhadapan dengan elite dunia di Super 1000.
Di sisi lain, kalender yang makin padat juga menjadi alarm keras. Tanpa manajemen fisik dan rotasi pemain yang cermat, atlet bisa terjebak kelelahan. Indonesia punya sejarah panjang soal inkonsistensi performa, akibat padatnya jadwal dan cedera pemain inti.
Penunjukan Jakarta sebagai tuan rumah Super 1000 menjadi keuntungan tersendiri bagi tim Merah-Putih. Selain kebanggaan, ini bisa menjadi peluang membangun atmosfer kompetisi kelas dunia di rumah sendiri. Meski keuntungan kandang, tidak otomatis berarti hasil. Dibutuhkan kesiapan teknis, mental, dan dukungan sport science agar Indonesia benar-benar memberi dampak ke performa atlet, bukan sekadar kemeriahan event.
BWF Umumkan 36 Kalender Baru World Tour 2027–2030
Daftar tuan rumah BWF World Tour 2027–2030

Pada level tertinggi Super 1000, kota-kota besar seperti Chengdu, Odense, Birmingham, Jakarta, dan Kuala Lumpur dipercaya menjadi tuan rumah. Turnamen kategori ini juga menawarkan hadiah tertinggi senilai US$2 juta, naik signifikan dibandingkan musim sebelumnya.

Kategori Super 750 akan digelar di Shenzhen, Paris, Hong Kong, New Delhi, dan Tokyo, dengan total hadiah US$1,1 juta per turnamen.

Sementara itu, level Super 500 yang tersebar di Asia, Eropa, dan Australia menyediakan hadiah US$560 ribu dan menjadi tulang punggung kalender kompetisi.

Untuk level Super 300, sejumlah kota seperti Orléans, Saarbrücken, Basel, hingga Bangkok masuk dalam daftar tuan rumah. Turnamen di level ini menawarkan hadiah US$290 ribu dan berperan penting sebagai ajang pembuktian pemain muda dan non-unggulan.

Di level Super 100, BWF menunjuk berbagai kota di Asia dan Eropa, termasuk Kaohsiung, Lucknow, Manila, dan Ho Chi Minh City. Hadiah yang diperebutkan mencapai US$140 ribu, dengan beberapa tuan rumah masih menunggu konfirmasi resmi.
Pada kalender baru BWF World Tour yang diumumkan, peningkatan hadiah dan kualitas siaran menunjukkan arah komersialisasi yang makin bergengsi. Ini bisa menjadi kabar baik bagi atlet dan federasi, karena nilai ekonomi bulutangkis naik kelas. Akan tetapi, tuntutan performa juga ikut naik. Pemain dituntut konsisten sepanjang musim, bukan hanya bagus di satu atau dua turnamen besar. Artinya, federasi harus berani merombak pola seleksi, kalender uji coba, hingga pembagian fokus turnamen mana yang menjadi target mengejar poin, dan mana yang prioritas regenerasi.
Pada akhirnya, era 36 turnamen ini menjadi ujian kedewasaan manajemen bulutangkis Indonesia. Jika dikelola dengan perencanaan matang rotasi pemain, jadwal latihan, dan pemanfaatan level turnamen sebagai jalur bertahap Indonesia bisa memetik keuntungan besar. Tapi jika tetap mengandalkan pemain inti, diantara padatnya jadwal, justru akan menggerus daya saing. Era baru World Tour sudah di depan mata. Pertanyaannya, Indonesia siap naik kelas atau tertinggal oleh ritme zaman?
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
