iMSPORT.TV – Subhan/Rina Marlina kembali membuktikan kualitasnya di Asian Para Games 2026 sebagai pasangan ganda campuran para bulu tangkis Indonesia. Meski dibayangi cedera dan trauma kekalahan di Paralimpiade Paris 2024, keduanya sukses mempertahankan medali emas klasifikasi SH6 pada Asian Para Games 2026.
Dalam final di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jumat (23/10/2026), Subhan/Rina menundukkan pasangan China, Lin Shuangbao/Zeng Qingtao, lewat pertandingan tiga gim selama 1 jam 13 menit. Mereka menang dengan skor 21-16, 11-21, 21-15.
“Kami yakin kalau kami masih bisa mempertahankan juara kami waktu di Hangzhou dan Alhamdulillah semuanya itu terjawab,” ujar Rina seusai laga.
Keberhasilan mempertahankan gelar tidak diraih dengan mudah. Sebulan sebelum berangkat ke Nagoya, Rina mengalami cedera paha belakang hingga kesulitan menekuk kaki. Ia terus menjalani terapi, tetapi kondisinya belum pulih sepenuhnya saat bertanding.
“Sebelum saya berangkat ke sini, sebulan sebelum berangkat, saya mengalami sakit di bagian paha belakang, dan itu nggak bisa nekuk. Tapi saya terus mencoba untuk terapi,” tutur Rina.
Tantangan semakin berat karena Rina tampil di tiga nomor sekaligus. Kondisi disabilitas tulang yang dimilikinya juga membuat risiko cedera menjadi perhatian tersendiri.
“Apalagi kami mainnya tiga nomor. Dan kita kan [disabilitasnya] tulang-tulang, jadi gampang untuk cedera,” ungkapnya.
Rina mengaku sempat kesulitan membagi konsentrasi antara menjaga kondisi kaki dan menjalankan strategi permainan.
“Sempat ragu sih, karena dengan keadaan yang seperti ini campur aduk. Harus fokus di permainan, dan harus fokus dulu gimana kakinya, imbanginnya. Dan Alhamdulillah kami bisa keluar dari tekanan itu,” katanya.
Asian Para Games 2026 : Mentalitas Juara Subhan/Rina Marlina Berbicara di Aichi Nagoya
Selain masalah fisik, Subhan/Rina juga harus mengatasi tekanan mental. Kekalahan dari Lin Naili/Li Fengmei di semifinal Paralimpiade Paris 2024 masih membekas dalam ingatan mereka.
“Tegang. Karena kami sehabis Paralimpiade waktu di Paris kalah sama China, dan itu bikin trauma kami berdua. Terus kebayang kalau melawan China,” ungkap Rina.
Final di Nagoya pun berlangsung ketat. Setelah merebut gim pertama, Subhan/Rina kehilangan gim kedua dengan skor 11-21. Namun, dukungan penonton Indonesia membantu mereka bangkit pada gim penentuan.
“Wah, sangat motivasi banget buat kami. Set kedua sudah kalah, sudah nge-down, bisa bangkit lagi dari teriakan-teriakan penonton yang ada di sini. Terima kasih banget,” ujarnya.
Rina menegaskan, kepercayaan satu sama lain menjadi modal penting untuk mengunci kemenangan.
“Kami berdua tetap yakin, tetap fokus. Intinya yakin aja kalau kami masih bisa mempertahankan medali emas kami,” tegasnya.
Bagi Rina dan Subhan, medali emas ini juga menjadi persembahan untuk keluarga, terutama ibu yang selalu memberikan dukungan.
“Saya nggak bisa berkata-kata. Intinya medali emas ini saya persembahkan buat warga negara Indonesia, terus paling utama buat ibu saya,” ucap Rina.
Subhan juga menyampaikan penghormatan kepada sang ibu.
“Buat keluarga, buat ibu. Karena di setiap langkah saya, beliau yang mendoakan,” ujarnya.
Rina menutup Asian Para Games 2026 dengan tiga medali. Selain emas ganda campuran SH6 bersama Subhan, ia meraih perak ganda putri SH6 bersama Apriliyana Sulistyawati dan perunggu tunggal putri SH6.
Kini, emas Nagoya menjadi bekal bagi Subhan/Rina untuk menatap Paralimpiade Los Angeles 2028. Mereka berharap bisa tampil sehat dan membayar kekalahan di Paris.
“Bismillah, semoga tidak dikasih cedera, dikasih kesehatan terus sampai Paralimpiade 2028 nanti. Karena kami masih ada utang di Paralimpiade kemarin. Di Paris kami kalah sama Cina. Mudah-mudahan ini menjadi modal untuk kami bisa bangkit lagi,” ungkap Rina.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
