iMSPORT.TV – Kemenangan Timnas Futsal Indonesia atas Jepang di semifinal AFC Futsal Asian Cup 2026 bukan sekadar hasil dramatis 5-3 lewat extra time. Ini adalah pernyataan. Pernyataan bahwa futsal Indonesia tidak lagi sekadar “kuda hitam” Asia, melainkan tim yang siap bersaing di level elite. Menumbangkan Jepang, tim yang selama ini identik dengan disiplin, taktik rapi, dan tradisi kuat, menjadi bukti bahwa jarak kualitas itu kini semakin menipis.
Hal paling menarik dari kemenangan ini bukan hanya skor, melainkan mentalitas. Indonesia sempat unggul 2-0, lalu kehilangan kontrol di babak kedua. Di titik inilah mental juara diuji. Tim bisa runtuh, panik, atau kehilangan arah. Namun yang terjadi justru sebaliknya, skuad Garuda bertahan dalam tekanan, lalu kembali bangkit di extra time. Ini menandakan satu hal penting. Indonesia mulai matang secara psikologis, bukan hanya berkembang secara teknis.
Pernyataan Hector Souto yang menolak mengklaim diri sebagai “pencetak sejarah” juga patut digaris bawahi. Sikap ini mencerminkan perubahan kultur di tubuh Timnas Futsal. Kemenangan tidak lagi dilihat sebagai hasil kerja satu figur, melainkan buah dari sistem. Staf, pemain inti, pemain cadangan, hingga mereka yang tidak turun ke lapangan—semua punya peran. Inilah ciri tim besar: kolektivitas lebih diutamakan daripada glorifikasi individu.
Dari sisi taktik, Indonesia menunjukkan kedewasaan. Saat laga masuk extra time, tim tidak terpancing bermain terbuka secara emosional. Mereka menahan bola, mengatur tempo, dan memilih momen menyerang. Ini detail kecil yang sering luput, tapi justru menentukan. Tim-tim Asia yang menduduki peringkat atas seperti Jepang dan Iran terbiasa menang karena disiplin pada detail-detail ini. Kini, Indonesia mulai berbicara dengan “bahasa” yang sama.
AFC Futsal 2026 : Kemenangan atas Jepang Bukan Kebetulan
Pengakuan Kensuke Takahashi bahwa Indonesia lebih kuat dari Jepang pada laga ini bukan basa-basi diplomatis. Mantan pelatih Timnas Indonesia itu tahu betul potensi futsal Indonesia. Atmosfer Indonesia Arena juga menjadi faktor besar. Bukan sekadar bising, tapi memberi tekanan psikologis kepada lawan. Dalam olahraga level atas, faktor mental sering kali sama pentingnya dengan kualitas teknis. Indonesia Arena telah menjadi “senjata” baru yang sah, selama tetap dibingkai dalam dukungan positif dan tertib.
Namun, euforia tidak boleh menutup mata dari pekerjaan rumah. Indonesia masih terlihat goyah ketika unggul. Kehilangan kontrol di babak kedua menjadi catatan penting jelang final melawan Iran. Tim sekelas Iran akan menghukum setiap kesalahan kecil. Mereka kuat secara fisik, rapi secara struktur, dan kejam dalam memanfaatkan momen. Jika Indonesia kembali lengah setelah unggul, harga yang harus dibayar bisa sangat mahal.
Optimisme Hector Souto soal peluang melawan Iran patut diapresiasi, tapi harus dibarengi realisme. Final bukan soal siapa yang lebih percaya diri di sesi wawancara, melainkan siapa yang paling disiplin selama 40 menit (atau lebih). Recovery 48 jam ke depan akan krusial. Rotasi terbatas membuat kebugaran dan manajemen emosi jadi kunci. Final tidak bisa dimenangkan hanya dengan semangat. Final dimenangkan oleh tim yang paling siap secara fisik dan mental.
Laga melawan Jepang menandai babak baru futsal Indonesia. Ini bukan puncak perjalanan, melainkan gerbang menuju ekspektasi yang lebih tinggi. Kini, Indonesia tidak lagi sekadar “berharap mencetak sejarah”. Indonesia sudah mencetaknya. Tantangannya adalah memastikan sejarah ini bukan momen sesaat, melainkan awal dari konsistensi di level Asia.
Final melawan Iran akan menguji apakah kemenangan atas Jepang adalah kebetulan manis, atau bukti bahwa futsal Indonesia benar-benar telah naik kelas.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
