iMSPORT.TV – Tim Badminton Indonesia akan menghadapi tahun penting di 2026. Tahun ini jadi penentuan posisi Indonesia menghadapi Race to Olympics di 2027 mendatang.
Tahun 2025 sudah berlalu dengan sejumlah kenyataan pahit bagi Tim Badminton Indonesia.
Mulai kering gelar di turnamen level atas, hingga tidak ada lagi gelar juara dunia untuk pebulutangkis Indonesia di tahun tersebut.
Namun di sisi lain, tahun 2025 juga diwarnai dengan harapan.
Ada sejumlah pemain muda yang menonjol dan mencuri perhatian.
Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu, masuk kategori tersebut.
Ada pula pemain yang sudah lebih matang seperti, Putri Kusuma Wardani. Putri KW menunjukkan grafik meningkat dan ia sudah stabil sebagai penghuni 10 besar.
Selain itu, Putri KW juga merebut medali perunggu Kejuaraan Dunia 2025.
Ada juga yang lebih senior seperti, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri serta Jonatan Christie. Mereka mampu unjuk gigi di semester kedua 2025.
Setelah jatuh-bangun di 2025, Tim Badminton Indonesia akan menatap tahun 2026.
Tahun 2026 bakal terasa punya beban lebih berat dibanding 2025, lantaran makin mendekati Olimpiade yang jadi target utama tiap pebulu tangkis di seluruh penjuru dunia.
Setahun ke depan berjalan, pebulutangkis akan menghadapi Road to Olympics, yang kemungkinan besar akan dimulai di Mei 2027.
Semua pencapaian di 2026 nantinya bakal menentukan titik start, begitu Race to Olympics dimulai.
Bila pemain-pemain Indonesia mampu tampil mengkilap di 2026, artinya mereka bakal punya posisi start yang bagus begitu Race to Olympics 2028 dimulai di 2027.
Sederhananya, bila mampu masuk daftar unggulan di turnamen-turnamen saat Race to Olympics dimulai, peluang untuk meraih poin lebih banyak, akan lebih terbuka karena tidak bertemu pemain unggulan lain di babak awal.
Sebaliknya, bila tak masuk dalam daftar unggulan, terlebih masih terlempar di luar posisi 32 besar, akan kian sulit mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya begitu Race to Olympics dimulai.
Maka, pemain-pemain muda yang di tahun lalu banyak mendapat pujian, meskipun tak selalu juara, harus bersiap ketika situasi berubah drastis.
Tekanan dan beban bakal dirasakan semakin besar, berbeda jauh dengan yang mereka dapatkan di 2025.
Hal ini terjadi karena status ‘pemain harapan’, diharapkan mampu berubah jadi ‘pemain andalan’.
Di tengah kesulitan dan upaya untuk bangkit yang sedang dilakukan oleh pemain-pemain Indonesia, ada kejuaraan penting yang akan hadir di 2026. Momen itu adalah Thomas-Uber Cup 2026, yang akan digelar pada April 2026 mendatang.
Terlepas dari minimnya pemain-pemain Indonesia yang memenangkan turnamen level atas di 2025, Tim Indonesia tetap layak dijadikan salah satu favorit untuk memenangkan Thomas Cup 2026 mendatang.
Sosok Jonatan Christie yang masih stabil di papan atas, ditambah Alwi dan Ubed, yang mulai menyeruak ke permukaan, membuat Indonesia punya lapisan yang cukup meyakinkan di nomor tunggal.

Bagaimana Bangkitkan Badminton Indonesia di 2026?
Belum lagi bila menyertakan nama Anthony Ginting yang saat ini penampilannya tengah menurun.
Bila Ginting bisa bangkit di bulan-bulan awal 2026, namanya tetap layak masuk skuad, sebagai salah satu senjata rahasia tim.
Di nomor ganda, Indonesia punya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Ada juga Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi yang juga masuk kategori Top 10.
Nama Raymond/Joaquin juga bisa dimasukkan dalam skuad untuk Thomas Cup mendatang. Juga ada nama lain seperti Daniel Marthin, Leo Rolly Carnando, dan Bagas Maulana yang juga akqn masuk pemantauan.
Emas SEA Games 2025 juga jadi salah satu indikasi kekuatan Indonesia.
Pemain muda seperti Alwi dan Ubed serta Sabar/Reza bisa unjuk gigi dan unjuk kemampuan bila diberi kesempatan.
Sedangkan di Uber Cup, keputusan Gregoria Mariska Tunjung untuk rehat selama satu tahun, harus dihormati.
Namun kehilangan Gregoria jelas berpengaruh besar pada kekuatan Tim Indonesia di Uber Cup.
Dengan demikian, Putri Kusuma Wardani bakal jadi ujung tombak utama. Selain itu, pasukan muda di tunggal putri bakal ambil alih tanggung jawab.
‘Ledakan’ di nomor ganda putri juga jadi penentu kiprah Indonesia di Uber Cup. Bila tren mereka makin meningkat, otomatis level kekuatan Indonesia juga bakal makin diwaspadai dan disegani.
Sementara untuk kejuaraan individu, Kejuaraan Dunia 2026 dan Asian Games 2026, jelas jadi target utama.
Dua kejuaraan itu jadi gambaran jelas posisi Indonesia di level tertinggi.
Peluang meraih gelar di dua turnamen itu bisa dibilang lebih kecil dibandingkan peluang meraih gelar Thomas Cup.
Namun bila semester awal 2026 diwarnai dengan hujan gelar untuk pemain-pemain Indonesia di level tinggi, pesimisme akan gelar Kejuaraan Dunia yang sudah lama tak didapatkan akan berubah 180 derajat.
(adm/amr)
Berita Olahraga Lainnya :
