iMSPORT.TV – Bek timnas Indonesia, Jordi Amat kini telah berevolusi menjadi gelandang permanen. Perubahan itu terjadi sejak berkarier di Indonesia. Jika dulu dikenal sebagai bek tengah, kini ia justru mulai menemukan kehidupan baru sebagai gelandang.
Perubahan ini tidak datang begitu saja. Pemain yang merupakan lulusan akademi RCD Espanyol itu pernah merasakan kerasnya kompetisi di Eropa, termasuk saat bermain di Swansea City. Namun setelah meninggalkan Eropa pada 2022 untuk memperkuat Johor Darul Ta’zim, perjalanan kariernya perlahan berubah arah.
Ketika tiba di Indonesia pada musim panas 2025 untuk membela Persija Jakarta, Amat tidak lagi berada di fase puncak karier sebagai bek tengah. Dalam beberapa kesempatan, ia terlihat rentan melakukan kesalahan di lini belakang, sesuatu yang berbahaya bagi pemain yang menjadi benteng terakhir pertahanan.
Di sinilah keputusan pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza menjadi menarik. Alih-alih terus mempertahankannya di jantung pertahanan, Souza justru menarik Amat lebih ke depan, menjadikannya gelandang.
Langkah itu ternyata bukan sekadar eksperimen. Dalam laga melawan Bali United pada Februari lalu, Amat langsung tampil impresif dan terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan. Sejak saat itu, ia mulai memainkan peran baru sebagai pengatur tempo di lini tengah.
“Sungguh luar biasa saya memenangkan ini, pemain terbaik pertandingan bermain sebagai gelandang,” ucap Jordi bulan lalu.
“Tapi mungkin saya harus mengubah posisi, jadi sangat senang bisa membantu,” kata Jordi.
Perubahan posisi ini terasa logis. Sebagai gelandang, Amat masih bisa memanfaatkan pengalaman membaca permainan tanpa harus memikul risiko besar sebagai pemain terakhir di lini pertahanan. Kesalahan kecil pun tidak lagi langsung berujung fatal.
Transformasi ini juga tak luput dari perhatian pelatih timnas Indonesia, John Herdman. Dalam daftar skuad terbaru yang dirilis PSSI untuk agenda FIFA Series Maret, Amat tidak lagi dicatat sebagai bek tengah, melainkan gelandang.
Keputusan tersebut bisa dibaca sebagai sinyal bahwa timnas mulai melihat Amat dengan perspektif baru. Ia bukan lagi sekadar bek naturalisasi berpengalaman, tetapi juga opsi tambahan di lini tengah.
Tentu persaingan tidak akan mudah. Posisi itu sudah dihuni nama-nama seperti Ivar Jenner, Marc Klok, Joey Pelupessy, hingga pemain serbabisa seperti Calvin Verdonk.
Namun hal itu membuat cerita ini semakin menarik. Di usia 33 tahun, Amat mungkin tidak lagi berevolusi secara fisik, tetapi secara peran ia sedang menemukan babak baru. Kadang, perubahan posisi bukan tanda kemunduran, melainkan cara bertahan lebih lama di level tertinggi.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
