Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cetak biru bagi dua harapan besar Asia Tenggara, Janice Tjen (Indonesia) dan Alex Eala (Filipina)

.

iMSPORT.TV – Janice Tjen dan Alex Eala memiliki teknik yang luar biasa. Tjen dikenal dengan kegigihannya di lapangan college Amerika, sementara Eala memiliki pengalaman matang di akademi Nadal. Namun, seringkali kita melihat pemain berbakat kesulitan saat menghadapi pemain Top 10.

1. Ketenangan di Poin Krusial: Bukan Sekadar Teknik

Mboko menunjukkan bahwa melawan pemain elit bukan soal “beradu kerasnya pukulan”, melainkan manajemen stres. Saat menyelamatkan match point melawan Rybakina di Montreal 2025, Mboko tidak terlihat panik. Ia tetap pada rencana permainannya. Bagi Tjen dan Eala, inspirasi utama di sini adalah bagaimana menganggap tekanan bukan sebagai beban, melainkan sebagai sebuah privilege.

2. Efisiensi Transisi dari Junior ke Pro

Banyak pemain muda, termasuk Alex Eala, mengalami fase transisi yang panjang di sirkuit ITF sebelum benar-benar “meledak” di WTA. Mboko memangkas waktu tersebut dengan kepercayaan diri yang sangat tenang (quiet inner strength).

Mboko tidak menunggu untuk merasa “siap” menghadapi pemain top; ia langsung masuk dengan mentalitas bahwa ia layak berada di sana. Mentalitas “berani menang” ini, bukan sekadar “takut kalah”, adalah sesuatu yang perlu diadopsi lebih dalam oleh Tjen dan Eala untuk Belajar dari Victoria Mboko: Mengapa Kematangan Mental adalah “Game Changer” bagi Janice Tjen dan Alex Eala

Dunia tenis wanita sedang menyaksikan fenomena baru. Victoria Mboko, petenis remaja asal Kanada, telah melakukan lonjakan karier yang hampir tidak masuk akal dalam satu tahun terakhir. Dari pemain yang berjuang di turnamen ITF, kini ia bertengger di peringkat 10 dunia (Februari 2026) setelah menaklukkan raksasa seperti Coco Gauff dan Elena Rybakina.

Namun, di balik trofi dan peringkat, ada satu hal yang membedakan Mboko: kematangan mental. Ini adalah elemen krusial yang seharusnya menjadi menembus tembok 50 besar dunia.

Cetak biru bagi dua harapan besar Asia Tenggara, Janice Tjen (Indonesia) dan Alex Eala (Filipina)

3. Konsistensi di Bawah Sorotan

Tekanan publik di Asia Tenggara sangat besar. Janice Tjen membawa harapan Indonesia, dan Eala adalah pahlawan nasional di Filipina. Seringkali, ekspektasi ini menjadi beban mental.

Mboko, yang juga menghadapi tekanan publik Kanada setelah menjuarai Canadian Open 2025, berhasil tetap membumi. Ia fokus pada proses holistik, menggabungkan strategi cerdas dengan disiplin emosi. Ia tidak membiarkan satu kemenangan besar membuatnya jemawa, namun ia juga tidak membiarkan kekalahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Perbandingan Pencapaian (Hingga Februari 2026)

Kesimpulan: Jalan Menuju Elit

Prestasi Victoria Mboko membuktikan bahwa jarak antara pemain berbakat dan pemain juara dunia bukanlah pada kekuatan fisik semata, melainkan pada apa yang terjadi di antara kedua telinga.

Bagi Janice Tjen dan Alex Eala, Mboko adalah bukti nyata bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk memiliki mentalitas baja. Jika mereka mampu mengadopsi ketenangan dan kedewasaan Mboko dalam mengambil keputusan di poin-poin kritis, bukan tidak mungkin panggung WTA akan segera melihat bendera Merah Putih atau bintang Filipina berkibar di babak-babak akhir turnamen besar.

Victoria Mboko memang contoh sempurna bahwa di level tertinggi tenis, mentalitas seringkali lebih menentukan daripada sekadar teknik pukulan. Melihat bagaimana dia tetap tenang saat menghadapi tekanan dari pemain Top 10 benar-benar bisa jadi pelajaran berharga bagi pemain muda  seperti Janice Tjen atau Alex Eala.

Penulis : Ruby Madjid

Berita Olahraga Lainnya