iMSPORT.TV –Petenis putri Indonesia, Janice Tjen memenangi laga pembukanya di turnamen WTA 1000 dengan menaklukkan petenis Ukraina, Dayana Yastremska, dengan kemenangan dua set langsung, 6-4, 6-1, di Dubai Championship yang berlangsung di Dubai Tennis Stadium, Dubai, Minggu (15/2).
Kemenangan straight set yang diraih Janice Tjen atas Dayana Yastremska mungkin tampak seperti cerita sederhana tentang dominasi. Jika dilihat dari sudut berbeda, pertandingan ini menunjukkan perubahan karakter tenis modern, yang bukan lagi sekadar soal pukulan keras atau reli panjang, melainkan penguasaan momentum psikologis.
Pada set pertama, ketika skor sempat 2-2, pertandingan sebenarnya berada di titik paling krusial. Di momen seperti itu, banyak pemain memilih bermain aman, dengan mengulur reli dan menunggu kesalahan lawan. Janice melakukan hal sebaliknya. Ia menaikkan tempo. Gim kelima yang dimenanginya bukan hanya menambah angka, tetapi mematahkan ritme Yastremska. Sejak saat itu, pertandingan berubah menjadi duel kontrol emosi, bukan lagi duel teknik.
Dubai Championship 2026 : Janice Menangi Pertandingan dengan Cara Sunyi
Hal yang sama terulang di set kedua. Unggul cepat 4-0 bukan sekadar keunggulan skor, melainkan pesan mental. Pertandingan ini akan ditentukan oleh siapa yang memimpin permainan, bukan siapa yang bereaksi. Yastremska sempat merebut satu gim, tetapi momentum sudah terlanjur hilang. Dalam tenis level atas, kehilangan momentum seringkali lebih fatal daripada kehilangan servis.
Yang menarik, kemenangan 6-4, 6-1 ini tidak terasa seperti ledakan performa, melainkan seperti proses penguncian perlahan. Janice tidak tergesa-gesa mencari pengakuan pemenang. Ia mengurangi ruang keputusan lawan. Setiap reli seakan memaksa Yastremska memilih pukulan berisiko.
Di sinilah makna penting laga ini, kemenangan bukan dibangun dari pukulan terbaik, tetapi dari pilihan paling konsisten. Tenis modern semakin menyerupai permainan catur berkecepatan tinggi, pemain yang mengendalikan pola, bukan yang paling keras memukul, yang akhirnya bertahan.
Dan pada hari itu, Janice menang karena ia mengendalikan cerita pertandingan sejak titik 3-2, bukan karena skor akhirnya terlihat meyakinkan.
(amr/adm)
