iMSPORT.TV — Sumaya tampak berusaha tegar. Di seberang net, lawannya asal Myanmar, Wai Khin Hnin, baru saja menyentuh poin ke-12 pada set penentuan babak puncak tunggal putri Teqball Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Berlaga di Nagoya City Higashi Sports Center, Aichi, pada Minggu (20/9/2026) lalu, atlet berusia 21 tahun itu harus merelakan medali emas usai melewati pertarungan ketat tiga set. Namun, raut kebanggaan tak bisa disembunyikan.
“Saya main tanpa beban. Tak banyak mikir, hanya berjuang bisa kalahkan lawan,” tuturnya dengan senyum hangat saat ditemui di kantor PP POTSI sepulang dari Jepang.
Meski kepingan yang dibawa pulang adalah perak, pencapaian ini teramat istimewa. Asian Games 2026 merupakan panggung debut bagi cabang olahraga Teqball, dan Sumayah sukses mematri namanya sebagai pengukir sejarah pertama bagi Indonesia di ajang tersebut.
Mengalir Darah Sepak Takraw
Jalan berliku Sumaya menuju podium Asia bermula dari sebuah kampung di wilayah kepulauan, tepatnya di Pangkalan Nyirih, Kabupaten Bengkalis, Riau. Gadis kelahiran 18 Agustus 2005 ini lahir dan tumbuh di keluarga yang sangat kental dengan olahraga sepak takraw.
Kedua orang tuanya adalah mantan atlet sepak takraw, di mana sang ibu pernah berstatus sebagai atlet nasional. Tiga saudara perempuannya pun menekuni olahraga yang sama.
“Di rumah sudah diajarin dari kecil olahraga terus,” kenang Sumaya
Namun, takdir menuntunnya ke jalan yang berbeda. Sekitar dua tahun lalu, saat gagal menembus seleksi tim sepak takraw, Sumayah mendapat tawaran menjajal cabang olahraga baru: Teqball. Tak disangka, meski baru berlatih kurang dari sebulan untuk laga eksibisi, ia langsung sukses membawa pulang medali.
Pelatih tunggal putri Teqball Indonesia, Benidiktus Budi Setyoko, mengakui bahwa fundamental sepak takraw membuat transisi Sumayah berjalan sangat mulus dan cepat. Berawal dari nomor ganda campuran, ia sukses bertransformasi menjadi andalan di nomor tunggal putri.
Doa Orang Tua dan Tangis Bahagia
Kehidupan sebagai atlet menuntut pengorbanan besar, terutama harus berpisah jarak dengan keluarga di Pangkalan Nyirih. Namun, komunikasi dan doa tak pernah putus. Setiap malam, Maya sapaan akrabnya, selalu menyempatkan diri menelepon orang tuanya, menceritakan progres latihan hingga memohon restu sebelum bertanding.
Ketika kepastian medali perak Asian Games 2026 berada di genggaman, tangis orang tuanya di seberang pulau pun pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan air mata kebanggaan melihat sang buah hati mengharumkan nama bangsa.
“Emak dan bapak, orang pertama yang pengen saya perlihatkan medali saya,” ucap Maya penuh haru.
Mahasiswi Aktif dengan Segudang Prestasi
Di luar kerasnya arena latihan, Sumaya adalah sosok inspiratif yang melek pendidikan. Ia tercatat sebagai mahasiswi aktif program studi Administrasi Negara di Universitas Terbuka (UT). Beruntung, pihak kampus memberikan kelonggaran selama ia berjuang membawa nama negara di Jepang.
Grafik prestasi Maya pun terbilang sangat fenomenal. Pada PON Aceh-Sumut 2024, ia memborong emas (ganda campuran) dan perak (tunggal putri). Masuk ke tahun 2025, ia mengoleksi perunggu SEA Games, perunggu Teqball World Tour Bangkok, serta dua perak di Kejurnas.
Puncaknya, sebelum terbang ke Nagoya, ia menyapu bersih dua medali emas di Kejurnas Teqball 2026 (tunggal putri dan ganda putri), sebuah modal mental yang membawanya terbang tinggi di panggung Asia.
Bagi Indonesia, pencapaian ini adalah sejarah baru yang membanggakan. Dan bagi Sumaya, medali perak Asian Games dari Pangkalan Nyirih ini bukanlah sebuah garis akhir, melainkan pijakan awal untuk lompatan prestasi yang jauh lebih besar di masa depan.
(adm/dfd)
Berita Lainnya:
