iMSPORT.TV – Kekalahan Timnas Futsal Putri Indonesia dari Australia di semifinal ASEAN Women’s Futsal Championship 2026 terasa seperti cerita yang belum selesai. Skor 2-3 yang ditentukan hanya 17 detik sebelum babak tambahan waktu berakhir bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan potret betapa tipisnya jarak antara keberhasilan dan kegagalan di level kompetisi internasional.
Garuda Pertiwi sebenarnya tampil meyakinkan sejak awal laga di Terminal21 Korat. Tim yang dihuni mayoritas pemain muda dari Women’s Pro Futsal League (WPFL) menunjukkan keberanian yang jarang terlihat pada tim yang masih dalam fase pembangunan. Mereka tidak sekadar bertahan dari tekanan Australia, tetapi juga mampu mengendalikan tempo lewat transisi cepat dan penguasaan ruang yang rapi.
Indonesia bahkan dua kali berada di posisi unggul. Itu bukan kebetulan, melainkan bukti bahwa kualitas teknis dan pemahaman taktik mulai berkembang. Untuk ukuran tim yang masih terus berproses, kemampuan menciptakan peluang dan menjaga intensitas permainan sepanjang laga menjadi sinyal bahwa futsal putri Indonesia sedang berada di jalur yang benar.

Langkah Timnas Futsal Putri Indonesia Terhenti di 17 Detik
Namun pertandingan ini juga memperlihatkan satu pelajaran klasik: pengalaman sering kali lebih mahal daripada strategi. Gol penyama kedudukan Australia yang lahir dari pengulangan tendangan bebas menjadi titik balik yang mengubah ritme permainan. Dari situ terlihat bahwa Indonesia masih perlu meningkatkan ketenangan dalam menghadapi momen krusial.
Babak tambahan waktu sebenarnya berjalan seimbang. Kedua tim saling mengancam, tetapi Indonesia terlihat mulai kehilangan energi. Ketika konsentrasi sedikit saja menurun di penghujung laga, Australia memanfaatkannya dengan sempurna lewat gol kemenangan yang tercipta hanya 17 detik sebelum peluit akhir berbunyi. Kekalahan seperti ini terasa paling menyakitkan karena kemenangan sebenarnya sudah begitu dekat.
Meski langkah terhenti sebelum final, pertandingan ini justru memberi alasan untuk optimistis. Gol dari Insyafadya Salsabillah dan Dhea Febrina Bangun bukan hanya angka di papan skor, tetapi simbol munculnya generasi baru futsal putri Indonesia.
Kalah dramatis memang menyisakan luka, tetapi jika dilihat lebih jauh, Garuda Pertiwi sebenarnya tidak sedang mundur. Mereka hanya berhenti sejenak tepat di depan pintu yang suatu hari kemungkinan besar akan berhasil dibuka.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
