Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pelatih Iran Menangis Jelang Final Lawan Timnas Futsal Indonesia, Kenapa ?

iMSPORT.TV – Tangis Vahid Shamsaei di konferensi pers jelang final AFC Futsal 2026 bukan sekadar momen emosional seorang pelatih sebelum laga besar. Di balik air mata itu, ada beban yang jauh lebih berat daripada sekadar target juara. Final melawan Timnas Futsal Indonesia memang soal trofi, tapi bagi Iran, pertandingan ini juga membawa simbol harapan di tengah situasi negaranya yang sedang dilanda konflik.

“Bisa saya sampaikan bahwa tidak ada satupun tim di turnamen yang tidak mendapatkan tekanan begitu besar. Karena itu saya ingin mengapresiasi pemain, rekan kerja, dan manajemen staf di tim ini yang bisa mengatasi tekanan itu,” kata Vahid.

Dalam sepak bola dan futsal level atas, pelatih biasanya tampil tegar. Mereka bicara taktik, kesiapan tim, dan target juara. Karena itu, ketika Vahid tiba-tiba menunduk, menyeka air mata, lalu menyampaikan duka untuk warganya, momen tersebut terasa “membuka tirai” sisi manusiawi dari kompetisi. Kita diingatkan bahwa di balik seragam tim nasional, ada individu-individu yang membawa beban personal, sosial, bahkan nasionalisme yang rumit.

Satu-satunya alasan kami ada di sini adalah untuk menunjukkan profesionalisme. Saya juga ingin menyampaikan duka yang mendalam untuk warga [Iran] yang kehilangan keluarga mereka di sana,” ucapnya.

Iran datang ke final dengan status raksasa Asia dan target gelar ke-14. Tekanan itu sendiri sudah besar. Namun tekanan akan terasa berlipat ketika situasi di tanah air tidak baik-baik saja. Konflik berkepanjangan, demonstrasi, dan korban jiwa membuat setiap keberhasilan tim nasional kerap dipandang sebagai penghiburan simbolik bagi rakyat. Di titik inilah olahraga sering dibebani makna yang melampaui fungsinya. Seperti kata Vahid, futsal saat ini “tidak lebih berharga” dibanding persatuan dan kemanusiaan. Pernyataan ini terasa jujur, sekaligus ironis, karena final tetap harus dimainkan.

Jadi segala perjuangan ini kami persembahkan untuk mereka. Futsal tidak lebih berharga saat ini. Yang lebih berharga adalah kita semua bersatu, bergandengan tangan untuk melampaui tantangan ini dan menatap masa depan,” ucapnya.

Saya ingin mempersembahkan ini untuk warga Iran, orang-orang yang saya cintai. Saya sangat cinta mereka. Sekali lagi, duka cita mendalam untuk warga Iran,” ia menambahkan.

Pelatih Iran Teteskan Air Mata Jelang Final Lawan Timnas Futsal Indonesia

Bagi Indonesia, momen ini juga penting untuk dibaca dengan kepala dingin. Mudah bagi publik untuk terhanyut dalam romantisme “air mata lawan” dan menjadikannya bumbu narasi dramatis. Padahal, di lapangan nanti, Iran tetap tim yang dingin, rapi, dan berbahaya. Emosi di ruang konferensi pers tidak otomatis mengurangi kualitas mereka di lapangan. Bahkan bisa jadi, kondisi emosional itu justru memantik motivasi ekstra bagi Iran untuk bermain habis-habisan.

Di sisi lain, kisah ini mengingatkan bahwa final nanti bukan semata duel taktik Hector Souto versus Vahid Shamsaei, atau adu kualitas pemain. Ini juga benturan dua narasi besar: Indonesia yang sedang naik kelas dengan dukungan publik sendiri, melawan Iran yang membawa beban sejarah, dominasi, dan situasi negaranya. Bagi Indonesia, tantangannya adalah tetap fokus pada permainan, tanpa terjebak simpati berlebihan yang bisa mengaburkan tujuan: menang.

Air mata Vahid mengajarkan satu hal penting: olahraga selalu bersentuhan dengan realitas sosial. Trofi memang penting, tapi empati juga perlu. Namun ketika peluit berbunyi, empati harus diletakkan di luar lapangan. Di dalam lapangan, Indonesia wajib tampil dingin, disiplin, dan kejam secara taktis. Karena final tidak dimenangkan oleh cerita, melainkan oleh tim yang paling siap mengeksekusi rencana permainan.

(amr/adm)

Berita Olahraga Lainnya :