iMSPORT.TV – Penunjukan Ricky Soebagdja sebagai Kepala Pelatnas Wilayah (Pelatwil) oleh PBSI menjadi langkah strategis dalam membangun sistem pembinaan bulutangkis yang lebih terstruktur dan merata. Kebijakan ini menandai keseriusan federasi dalam mengoptimalkan potensi atlet muda di daerah melalui pendekatan desentralisasi.
“Bapak Ketua Umum menunjuk saya sebagai ketua pelatwil yang bertugas untuk memastikan secara keseluruhan pelatwil ini bisa berjalan setelah dibentuk pada tahun lalu,” ucap Ricky pada Tim Humas dan Media PP PBSI, Rabu (1/4) siang di Cipayung, Jakarta Timur.
“Jadi betul-betul dari mulai program latihan dan lain sebagainya itu meneruskan nanti ke pemusatan latihan nasional. Keterlibatan PBSI pusat sendiri dengan dua pelatwil ini, yang pertama tentu memonitoring perjalanannya, prosesnya, jadi bukan hanya diadakan terus ditinggal begitu ya, tapi kita yang memang menyiapkan semua. Dari yang pertama biayanya lalu dalam perekrutan pelatih utama, kita yang merekomendasikan dan koordinasi dengan penanggung jawab langsung di sana. Nah ini semua dimonitoring, nanti prosesnya bagaimana, program latihannya seperti apa, pertandingannya bagaimana, semua akan direport,” ungkap Ricky.
Program pelatwil yang telah berjalan sejak November 2025 di Medan dan Surabaya menjadi fondasi awal dalam memperluas jangkauan pembinaan. Dengan total 48 atlet yang telah terjaring, PBSI kini tidak lagi hanya bergantung pada pelatnas utama di Cipayung, tetapi mulai membangun ekosistem pembinaan berlapis yang terintegrasi.
“Rencananya di tanggal 10-11 April, saya akan hadir di pelatwil tengah untuk bersosialisasi dan berkoordinasi lebih lanjut. Juga memastikan kesiapan para atlet pelatwil yang akan turun di ajang Sirkuit Nasional A Jawa Timur (13-18 April),” sahut Ricky.
Dari sisi strategi, peran Ricky tidak sekadar administratif, tetapi juga krusial dalam menjaga sinkronisasi program latihan antara pelatwil dan pelatnas. Hal ini penting untuk memastikan standar pembinaan tetap terjaga, sekaligus memberi ruang adaptasi bagi atlet muda dengan intensitas latihan yang disesuaikan.
Sebagai mantan atlet dan legenda bulutangkis Indonesia, Ricky menyambut positif bergulirnya pelatwil ini. Ricky juga berharap akan ada progres baik dan hasil yang bagus ke depan.
“Dulu di zaman saya ada yang namanya pelatda atau pusdiklat lalu vakum dan sekarang di kepengurusan pak Fadil kembali diaktfikan. Saya rasa itu sangat baik dan harus terus dilanjutkan. Bagaimana yang terbaik di wilayah itu dijaga dan dipantau perkembangannya,” ujar peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996 ini.
Namun, tantangan utama terletak pada konsistensi monitoring dan keberlanjutan program. Tanpa pengawasan yang kuat, pelatwil berpotensi kehilangan arah seperti program serupa di masa lalu. Di sinilah pengalaman Ricky sebagai mantan atlet elite menjadi nilai tambah, terutama dalam memahami kebutuhan pembinaan jangka panjang.
Secara keseluruhan, pelatwil merupakan investasi jangka panjang PBSI dalam menjaga regenerasi atlet. Jika dijalankan secara konsisten, program ini berpotensi melahirkan talenta-talenta baru yang siap bersaing di level nasional hingga internasional.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
