
iMSPORT.TV – Karier profesional Janice Tjen benar-benar meledak sejak Mei 2024, saat ia meninggalkan kampus tanpa peringkat dunia.
Malam Minggu lalu, di bawah sorot lampu SDAT Tennis Stadium yang basah oleh hujan musim panas India, Janice Tjen menorehkan namanya dalam sejarah tenis Indonesia.
Dengan pukulan forehand yang mematikan dan ketenangan ala veteran, petenis berusia 23 tahun asal Jakarta ini, mengalahkan Kimberly Birrell dari Australia 6-4, 6-3 di final Chennai Open 2025.
Kemenangan itu bukan hanya gelar WTA pertamanya, tapi juga akhir dari penantian panjang 23 tahun bagi wakil Indonesia di level WTA Tour. Terakhir kali seorang petenis Tanah Air juara Adalah, Angelique Widjaja di Pattaya City 2002.
Tennis? Itu olahraga “asing” bagi kebanyakan keluarga, apalagi dengan biaya pelatihan yang mencekik. Tjen mulai memegang raket secara tak sengaja, diajak teman masa kecilnya, Priska Madelyn Nugroho- juara ganda junior Australian Open 2020.
Mulai dari University of Oregon (2020-2021), lalu pindah ke Pepperdine University di Malibu, California, kampus tempat ia lulus sosiologi pada 2024, sambil meraih peringkat No. 1 ITA doubles dan No. 35 singles.
Karier profesional Janice Tjen benar-benar meledak sejak Mei 2024, saat ia meninggalkan kampus tanpa peringkat dunia. Dalam 15 bulan, ia meraih 13 gelar ITF, dengan rekor 100 kemenangan -13 kekalahan- termasuk streak 27 pertandingan tak terkalahkan dari Mei-Juli 2025.
Gaya bermainnya mirip Ash Barty, idola sejak kecil: forehand topspin berat, slice backhand licin, dan sering maju ke net untuk voli tajam. Pelatih Bint, mantan pelatih nasional Selandia Baru yang dikenalnya lewat teman Pepperdine, Vivian Yang, jadi kunci.
Tahun 2025 jadi puncak kebangkitannya. Agustus lalu, Janice Tjen menembus main draw Grand Slam pertama kalinya di US Open 2025 – prestasi pertama bagi petenis Indonesia sejak Widjaja di edisi 2004.
Ia lolos kualifikasi dengan mengalahkan unggulan ketiga Aoi Ito dari Jepang dalam dua set lurus, lalu di babak utama, ciptakan kejutan besar: kalahkan Veronika Kudermetova (peringkat 24) 6-4, 4-6, 6-4.
Ini kemenangan Grand Slam pertama bagi wanita Indonesia sejak Widjaja kalahkan Evgenia Kulikovskaya di Wimbledon 2003.
Tjen cetak 30 net approach – terbanyak di hari pertama dan tunjukkan mental baja di set ketiga. Sayang, langkahnya terhenti di babak kedua oleh Emma Raducanu, juara US Open 2021, yang menang 6-2, 6-1.
- Nova Siapkan Timnas Indonesia Jelang Lawan Brasil
- Islamic Solidarity Games Riyadh 2025: Tim Mini dengan Semangat Besar untuk Indonesia
Sang Sarjana Sosiologi, Jenice Tjen, Sukses Raih Gelar WTA Indonesia
Tak puas dengan satu sejarah, September membawa Tjen ke level WTA 250 debut di Sao Paulo Open, Brasil.
Ia jadi petenis Indonesia pertama capai perempat final sejak Widjaja di Wismilak International 2004. Kalahkan Alexandra Eala (unggulan 3) di perempat final, lalu Francesca Jones (6) di semifinal 7-6(0), 6-3, Tjen lolos ke final – pertama bagi Indonesia sejak Widjaja 2002.
Sayangnya, di final ia tunduk pada Tiantsoa Rakotomanga Rajaonah dari Prancis 3-6, 4-6. Prestasi itu angkat peringkatnya ke 103 dunia, dari 130 sebelum US Open.
Oktober jadi bulan ajaib. Di Suzhou Open (WTA Challenger 125), Tjen tak hanya juara ganda pertama duet bersama Aldila Sutjiadi – kalahkan Katarzyna Kawa/Makoto Ninomiya, tapi juga dominasi tunggal. Ia raih gelar WTA 125 singles pertama di Jinan Open, kalahkan Anna Bondar di final.
Kemenangan Suzhou itu mendorong ia masuk top 100 pada 6 Oktober 2025, jadi petenis Indonesia keenam capai milestone, setelah Lany Kaligis, Lita Liem-Sugiarto, Yayuk Basuki (puncak No. 19), Romana Tedjakusuma, dan Widjaja.
Jika menang, itu gelar ganda WTA keduanya tahun ini – setelah Guangzhou bersama Katarzyna Piter.
Rekor 2025-nya? 72 kemenangan-15 kekalahan, hadiah $286.532. Ranking live-nya kini 75, dekat top 50.
Perjalanan Tjen ingatkan era keemasan 1990-an, saat Basuki raih enam gelar WTA dan Widjaja juara junior Wimbledon 2001.
Tapi Janice Tjen beda : ia bangkit dari nol, lewat kerja keras college dan ITF. Bagi tenis Indonesia, Tjen adalah harapan baru.
Puasa gelar tunggal berakhir, tapi cerita ini baru bab satu. Siapa tahu, Grand Slam berikutnya panggil namanya.
(adm/amr)
Berita Olahraga Lainnya :
