iMSPORT.TV – Nama Stephanus Widjanarko mendadak mencuat di media sosial X (sebelumnya Twitter) dan prestasinya dielu-elukan warganet.
Stephanus Widjanarko menjadi satu-satunya warga negara Indonesia atau WNI yang berkiprah di ajang balap paling prestisius dunia, Formula 1 (F1), tim anyar yang akan menjalani debut pada musim F1 2026.
Sosok Stephanus Widjanarko juga menuai pujian public, lantaran memilih untuk tak memamerkan pekerjaannya yang mentereng maupun gajinya yang melimpah.
“Stephanus Widjanarko. Orang Indonesia yang kerja di tim F1, tapi ndak pernah pamer kerjaan dan gaji,” cuit seorang warganet yang cuitannya mendapat segudang respon dari warganet.
Ia kini berkarya di salah satu tim kondang F1 dari Italia, Toro Rosso.
“Di podcast mainbalap, beliau terlihat dan sangat menutupi detail pekerjaannya, ketika menjawab pun dijawab secara general, lebih banyak menjawab bagaimana perjalanannya bisa sampe di Toro Rosso, tapi detail pekerjaannya beliau gak mau bercerita,” timpal seorang warganet.
Lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kini dipercaya menjabat sebagai Lead Engineer Aero Development di Cadillac Formula 1 Team. Ini menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi Indonesia mampu bersaing dan memimpin di level teknologi tertinggi dunia.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya menempatkan Stephanus sebagai salah satu figur penting dalam pengembangan mobil F1 generasi terbaru.

Dikutip dari unggahan Instagram resmi dosen ITB, Imam Santoso, Stephanus Widjanarko menempuh pendidikan Sarjana (S1) Teknik Mesin di ITB sejak 2004 dan lulus pada 2008.
Dia tertarik pada dinamika fluida dan aerodinamika yang akhirnya mendorongnya melanjutkan studi ke jenjang magister. Meraih gelar S2 Engineering Fluid Dynamics dari University of Twente, Belanda (pada 2009).
Meski mengantongi gelar dari universitas ternama Eropa, jalan Stephanus menuju Formula 1 tidak instan. Ia lebih dulu membangun fondasi karier di berbagai sektor industri berteknologi tinggi.
Karier Awal di Industri Energi dan Dirgantara
Sebelum masuk ke dunia F1, Stephanus Widjanarko mengantongi pengalaman kerja sejak kuliah, magang di Chevron (Balikpapan) sebagai teknisi pengeboran atau drilling engineer.
Usai magang, ia dapat panggilan kerja ke Denmark untuk bekerja di Vestas Wind System, Denmark, sebagai teknisi aerodinamis.
Ia juga melakukan riset di National Aerospace Laboratory (NLR) Belanda, dengan fokus pada applied Computational Fluid Dynamics (CFD) dan prinsip aerodinamika kompleks. Bahkan, demi memperkaya pengalaman praktis, Stephanus sempat menjalani magang sebagai drilling engineer di industri minyak dan gas.
Pengalaman lintas sektor ini menunjukkan karakter Stephanus sebagai insinyur yang adaptif, disiplin, dan siap bekerja keras sebelum melangkah ke kompetisi tertinggi.
Stephanus Widjanarko, Lead Engineer di Cadillac F1 Team
Bisa sampai ke Formula 1?

Karier Stephanus di Formula 1 dimulai pada 2013. Lebih dari 12 tahun (2013–2025), ia berkiprah bersama Scuderia Toro Rosso, yang kemudian berevolusi menjadi Scuderia AlphaTauri, di Italia.
Di tim ini, Stephanus berperan sebagai spesialis aerodinamika bagian depan mobil F1. Tanggung jawabnya, mendesain front wing dan hidung mobil, komponen vital yang memengaruhi aliran udara dan performa keseluruhan mobil.
Ia juga menjadi penghubung penting antara data simulasi CFD, terowongan angin, dan performa nyata di lintasan balap. Kontribusinya tercatat dalam kemenangan bersejarah Pierre Gasly di GP Monza 2020, salah satu momen ikonik dalam sejarah AlphaTauri.
Fase terbaru kariernya, Stephanus bergabung dengan Cadillac Formula 1 Team, sebagai Lead Engineer Aero Development. Cadillac merupakan pendatang baru di F1, sehingga ia dipercaya membangun konsep aerodinamika mobil dari nol.
Stephanus memegang peran strategis dalam menghadapi regulasi baru Formula 1 2026, termasuk pengembangan aerodinamika aktif yang jauh lebih kompleks.
Tak hanya bertanggung jawab secara teknis, ia juga turut membangun fondasi budaya kerja dan filosofi engineering Cadillac F1 sejak awal.
Keberhasilan Stephanus menjadi Lead Engineer di Cadillac F1 Team, menegaskan bahwa talenta Indonesia memiliki daya saing global di dunia teknologi dan motorsport.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip Jumat (4/4/2025) tahun lalu, mengungkap ada cerita menarik mengapa ia memiliki kecintaan untuk terjun ke dunia F1. Stephanus punya ketertarikan yang berlebih kepada F1 saat sang ayah nonton balap F1.
Stefanus kecil tak hanya menonton siaran F1 di layar kaca, tapi sudah menjadi bagian dari dunia ajang balap paling bergengsi itu.
Kini Stephanus menikmati puncak kariernya sebagai Aero Engineer alias teknisi aero di ajang balap Formula 1.
(adm/amr)
Berita Menarik Lainnya :
