Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Target FIFA dan Board Of Peace Untuk Pulihkan Gaza

iMSPORT.TV –  Langkah FIFA menggandeng Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump untuk memulihkan Gaza lewat sepak bola bukan sekadar kerja sama olahraga. Ini adalah eksperimen diplomasi baru, ketika sepak bola dijadikan bahasa bersama di wilayah yang lama berbicara lewat konflik.

Peresmian kemitraan di Markas Besar Institut Perdamaian Donald J. Trump AS menghadirkan sejumlah tokoh penting, termasuk Presiden FIFA Gianni Infantino. Namun yang lebih menarik dari seremoni tanda tangan pada Jumat (20/2) WIB, adalah desain jangka panjangnya, membangun ekosistem (infrastruktur, program komunitas, dan peluang ekonomi), bukan hanya lapangan.

Kemitraan itu ditandatangani Presiden FIFA Gianni Infantino, Dewan Eksekutif Perdamaian Gaza Yakir Gabay, perwakilan Tinggi Gaza Nickolay Mladenov, dan Administrasi Gaza Ali Shaath.

FIFA dan Board of Peace telah menandatangani perjanjian kemitraan penting yang akan mendorong investasi sepak bola untuk tujuan membantu proses pemulihan di wilayah pasca-konflik,” kata Infantino.

FIFA ingin sebanyak mungkin orang di seluruh dunia berpartisipasi dalam permainan kami dan mendapatkan manfaat dari peluang yang diciptakan,” ujarnya dalam rilis FIFA.

Target FIFA dan Board Of Peace Untuk Pulihkan Gaza

Empat fase yang dirancang FIFA dan Board of Peace bertahap di Gaza, Palestina.

Fase pertama : aktivasi komunitas selama tiga hingga enam bulan. Targetnya 50 lapangan mini FIFA lengkap dengan fasilitas. Ini bukan proyek simbolik, 50 lapangan berarti 50 titik pertemuan sosial baru, 50 ruang aman bagi anak-anak untuk bermain, dan 50 peluang memulihkan rasa normalitas.

Fase kedua : menyasar infrastruktur profesional selama satu tahun. Lima lapangan sepak bola akan dibangun untuk memantik lahirnya klub-klub lokal. Di sinilah sepak bola mulai bergerak dari sekadar aktivitas rekreatif menjadi industri kecil yang menciptakan pekerjaan, sepeti pelatih, ofisial, hingga pengelola kompetisi.

Fase ketiga : adalah pembentukan Akademi FIFA selama 18–36 bulan, menggabungkan pendidikan dan sepak bola. Konsep ini menarik karena menempatkan olahraga sebagai pintu masuk literasi, disiplin, dan mobilitas sosial. Anak-anak tidak hanya belajar menggiring bola, tetapi juga membangun masa depan.

Fase keempat : pembangunan stadion nasional berkapasitas 20 ribu penonton dalam tiga tahun. Stadion ini berpotensi menjadi simbol kebangkitan—ruang kolektif di mana identitas dan harapan dirayakan bersama.

Tentu, tantangannya terbesar adalah stabilitas politik, keamanan, dan keberlanjutan pendanaan. Namun jika berhasil, proyek ini bisa menjadi solusi, bahwa sepak bola bukan cuma hiburan, melainkan menjadi jembatan diplomasi. Di Gaza, sepak bola mungkin tak langsung menghentikan konflik, tetapi ia bisa menumbuhkan sesuatu yang lama hilang, yakni harapan.

(amr/adm)

Berita Olahraga Lainnya :