Kesuksesan ini sebagai pemicu Edgar Xavier Marvelo bersama Seraf Naro Siregar dan Haris Horatius untuk tampil menjadi yang terbaik pada Dwilian Team. Mereka mencatat 9.54 poin dan memastikan emas kedua bagi Tim Wushu Indonesia. Medali perak direbut tim Brunai dengan 9,50 poin dan perunggu direbut tuan rumah Filipina dengan 9,49 poin.
Selain meraih dua emas, Tim Wushu Indonesia juga menambah satu medali yang dipersembahkan Harris Horatius dari Nanquan perorangan putra dengan 9,63 poin. Medali emas nomor ini direbut atlet wushu Vietnam, Quoc Khanh Pham dengan 9,65 poin dan perunggu diraih atlet wushu Myanmar, Thein Than Oo dengan 9,62 poin.
Di Tengah Duka, Tim Wushu Indonesia Mampu Penuhi Target
Sayang sukses Edgar Xavier tidak diikuti tiga atlet sanda Indonesia yang tampil di final. Kelas 48kg putra, Ade Permana hanya meraih perak setelah kalah dari atlet tuan rumah, Filipina, Jessie Mandigal Aligaga. Medali yang sama juga diraih Laksamana Pandu yang mengalami kekalahan di final kelas 52kg putra atas atlet wushu tuan rumah, Filipina, Amel Rosa yang merupakan peraih perak Kejuaraan Dunia Wushu China 2019 lalu. Begitu juga dengan peraih perunggu Asian Games Jakarta Palembang 2018, Yusuf Widiyanto yang harus mengakui keunggulan Francisco Solis juga dari Filipina di final kelas 56kg putra.
“Dari segi teknik ketiga atlet wushu Indonesia tidak kalah kualitasnya dengan atlet tuan rumah Filipina. Dukungan penonton itu cukup berpengaruh terhadap penampilannya” pelatih Sanda Indonesia.
Mukhlis yang ditemui usai pertandingan. Dengan tambahan tiga medali perak tersebut, Tim Wushu Indonesia mengoleksi 2 emas, 5 perak dan 2 perunggu. Penulis : Azhary Nasution