iMSPORT.TV – Komite Olimpiade Internasional (IOC) resmi mengumumkan kebijakan baru terkait perlindungan kategori perempuan dalam olahraga Olimpiade berupa pembatasan kelayakan perempuan yang berkompetisi di kategori putri.
“Kebijakan yang telah kami umumkan didasarkan pada sains dan telah dipimpin oleh para ahli medis,” kata Presiden IOC Kirsty Coventry di laman resmi IOC yang dikutip di Jakarta, Jumat.
Kelayakan untuk kategori perempuan akan ditentukan pertama-tama melalui skrining gen Sex-determining Region Y (SRY) untuk mendeteksi ada atau tidaknya gen SRY.
Tes tersebut akan dilakukan melalui sampel saliva, usap pipi, atau darah. Presiden IOC, Kirsty Coventry, menegaskan bahwa, kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan ilmiah dan rekomendasi para ahli medis.
“Di Olimpiade, selisih sekecil apa pun bisa menentukan kemenangan atau kekalahan. Karena itu, tidak adil jika laki-laki biologis berkompetisi di kategori putri. Dalam beberapa cabang, hal ini juga menyangkut aspek keselamatan,” ujarnya.
Kebijakan ini muncul setelah kontroversi pada cabang tinju putri di Olimpiade Paris 2024, yang melibatkan petinju Aljazair Imane Khelif dan atlet Taiwan Lin Yu-ting. Keduanya sebelumnya didiskualifikasi dari Kejuaraan Dunia 2023 oleh International Boxing Association (IBA), karena dianggap tidak memenuhi syarat kelayakan.
IOC tetapkan aturan baru: batasi kompetisi putri di Olimpiade hanya untuk perempuan biologis
Namun, IOC tetap mengizinkan mereka tampil di Paris, dengan menyebut keputusan IBA sebagai “tiba-tiba dan sewenang-wenang”. Khelif dan Lin kemudian justru meraih medali emas.
Sementara itu, Lin Yu-ting kini telah dinyatakan memenuhi syarat untuk kembali bertanding di kategori putri dalam ajang yang diatur oleh World Boxing, federasi yang akan mengawasi cabang tinju di Olimpiade 2028.
Kirsty mengatakan bahwa, setiap atlet harus diperlakukan dengan bermartabat dan hormat, dan atlet hanya perlu menjalani pemeriksaan sekali seumur hidup.
Ia menambahkan bahwa, harus ada edukasi yang jelas mengenai proses tersebut dan konseling yang tersedia, di samping saran medis dari para ahli.
Tes gender sendiri bukan hal baru dalam sejarah Olimpiade. Praktik ini pertama kali diperkenalkan pada 1968 dan terakhir digunakan pada Olimpiade 1996 di Atlanta, sebelum dihentikan akibat kritik dari komunitas ilmiah.
Keputusan terbaru IOC ini dipastikan akan memicu perdebatan global, di tengah upaya mencari keseimbangan antara prinsip keadilan kompetisi, inklusivitas, dan hak atlet di panggung olahraga tertinggi dunia.
Aturan ini akan mulai diterapkan pada Olimpiade Los Angeles 2028.
(adm/amr)
Berita Olahraga Lainnya :
