iMSPORT.TV – Pertandingan tanpa gol sering dianggap membosankan. Namun hasil imbang 0-0 antara Cremonese dan Genoa justru memperlihatkan sisi lain sepak bola.
Pujian Daniele De Rossi terhadap penampilan penjaga gawang Timnas Indonesia, Emil Audero. Laga ini sebenarnya bukan sekadar kisah heroik seorang kiper. Ini adalah contoh klasik bagaimana tim papan bawah bertahan hidup di kompetisi seperti Serie A, bukan dengan penguasaan bola, tetapi dengan menguasai rasa frustrasi lawan.
“Mencetak gol melawan Cremonese itu sulit, mereka tim yang kuat secara fisik dan vertikal,” ujar De Rossi menambahkan analisanya.
Genoa mengendalikan permainan, menciptakan peluang, bahkan mencatat lebih banyak tembakan tepat sasaran. Secara teori, mereka melakukan segalanya dengan benar. Tetapi sepak bola bukan matematika.
Setiap penyelamatan Audero tidak hanya menghentikan bola, melainkan juga menghentikan ritme dan kepercayaan diri penyerang. Semakin lama pertandingan berjalan, tekanan justru berbalik, tim dominan mulai takut gagal, sementara tim bertahan mulai percaya hasil sudah di tangan.

“Selain itu, saya melihat tim yang hebat, kami bermain bagus. Mencetak gol melawan Cremonese itu sulit, mereka tim yang kuat secara fisik dan vertikal. Itu tidak mudah bagi siapa pun. Kami mampu mengimbangi Djuric, yang tingginya dua meter, dan lari-lari Thorsby,” ujar De Rossi menambahkan.
Pelatih Genoa Puji Kiper Timnas Indonesia Emil Audero
Menariknya, rating tinggi penjaga gawang timnas Indonesia ini, sering disalahartikan sebagai bukti pertahanan lemah. Dalam konteks ini justru sebaliknya. Cremonese membiarkan Genoa menembak dari area yang “diizinkan”. Mereka tidak menutup semua ruang, mereka mengarahkan serangan. Strategi ini membuat penyelamatan Audero terlihat spektakuler, padahal sebagian besar adalah hasil dari organisasi pertahanan yang disiplin.
Peran Emil terlihat di sini. Mantan pemain Juventus ini melakukan lima penyelamatan. Dari lima itu, satu di antaranya mematahkan tembakan pemain Genoa dari dalam kotak penalti. Pada babak kedua, situasi tak banyak berubah. Lini tengah Genoa lebih bisa mengendalikan permainan. Karena itu Cremonese banyak melakukan serangan balik.
Inilah ironi sepak bola modern. Dominasi statistik sering memberi kekuatan yang bukan sesungguhnya. Genoa bermain lebih indah, lebih rapi, dan lebih aktif. Tetapi Cremonese bermain lebih realistis.
Hasil imbang ini bukan kegagalan menyerang, melainkan keberhasilan memahami identitas. Dalam kompetisi panjang, bertahan dengan cerdas sering bernilai sama mahalnya dengan menang, terutama bagi tim yang target utamanya bukan kejayaan, melainkan kelangsungan hidup.
(amr/adm)
Berita Olahraga Lainnya :
