Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Marc Marquez: Kehidupan Luar Biasa Sang Superstar MotoGP

iMSPORT.TV – Marc Márquez akan memulai musim balap MotoGP pada 2026 ini, dengan target meraih gelar juara dunia ke-10 kalinya dan ke-8 kalinya di kelas elit balap motor. Terlepas dari semua kesuksesannya, yang mencakup begitu banyak kemenanga, pembalap asal Catalan ini telah mengalami banyak kesulitan. Inilah kisahnya.

Setelah alami cedera yang menghancurkan, tantangan terbesar bagi Marc Márquez adalah menjadi seperti yang dulu, untuk itu, ia pindah dari tempat tinggalnya di Cervera, ke Madrid.

Sepanjang seri, kita melihat sisi lain dari sang pembalap juara yang berusaha untuk kembali kompetitif di sirkuit MotoGP. Kita juga belajar tentang masa kecilnya, kehidupan keluarganya, dan melihat beberapa momen penting dari kariernya yang luar biasa hingga saat ini.

Memulai dengan kuat
Márquez lahir di Cervera, Spanyol, pada 17 Februari 1993 (itulah sebabnya ia membalap dengan nomor motor 93) dari orang tua bernama Juliá dan Roser. Sepertinya sepeda motor sudah mengalir dalam darahnya, bahkan sebelum ia berusia empat tahun, ia sudah minta sepeda motor kepada orang tuanya. Sejak saat itulah tidak ada jalan untuk kembali.

Saat usia tujuh tahun (2001), ia memenangkan Kejuaraan Enduro Catalonia, sebelum memutuskan bahwa balap aspal jadi masa depannya, bukan off-road. Dia pindah ke lintasan pada tahun berikutnya.

Usia 10 tahun, ia meraih gelar road race pertamanya, Champion Open Race 50, sebelum naik ke kelas 125cc. Tahun kedua, dia meraih gelar juara dengan mengendarai Honda CBR125, sebuah prestasi yang diulanginya di tahun berikutnya.

Márquez kemudian pindah dari seri Catalonia ke Kejuaraan Spanyol (2007) dan berkompetisi di kejuaraan ini, hanya selama satu musim, dengan KTM 125 RRF, dia raih kemenangan balapan nasional pertamanya dan finis di urutan ke-sembilan.

MotoGP

Marc Marquez: Kehidupan Luar Biasa Sang Superstar MotoGP

Mengguncang dunia
Usia 15 tahun dan 127 hari, Márquez, bagian dari tim KTM Repsol, meraih podium pertama di Kejuaraan Dunia 125cc (2008 – sekarang disebut Moto3), menjadikannya pembalap Spanyol termuda yang meraih podium di ajang ini.

Pada saat itulah ia mulai dijuluki ‘The Ant of Cervera’, karena perawakannya yang kecil tapi berkemampuan luar biasa dalam mengendalikan mesin yang berat dan bertenaga. Musim keduanya di kelas 125cc, Márquez bersama tim Red Bull KTM Motorsport, kembali meraih podium dan dua posisi terdepan, menunjukkan kemampuannya yang luar biasa.

Tahun 2010, dunia mulai memperhatikan Márquez. Pindah ke tim pabrikan Derbi, dan dalam tes pra-musim, kecepatan Marquez tak bisa diabaikan, ia langsung ditempatkan sebagai salah satu favorit untuk merebut gelar juara dunia 125cc. Pada musim itu Márquez memenangkan 10 balapan dari 17 balapan, termasuk lima kemenangan beruntun.

Dia juga meraih 11 posisi terdepan, siap untuk naik ke Moto2 dan hanya menghabiskan dua musim di Moto2, dan setelah terbiasa dengan mesin 600cc pada 2011, setahun kemudian ia gelar juara.

Dia mengakhiri waktunya di kategori kelas dua di balapan terakhir yang megah di Valencia, Spanyol. Memulai balapan dari posisi ke-33 di grid, melesat ke depan dan meraih kemenangan, melewati 20 motor di lap pembuka. Kemenangan ini menjadi terbesar dalam sejarah olahraga ini.

MotoGP

Márquez terus membuktikan diri bahwa ia punya kemampuan bersaing sangat baik, tapi naik ke MotoGP, menemukan ujian yang sama sekali beda. Tak hanya berhadapan dengan beberapa bintang terbesar yang pernah ada; Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Nicky Hayden, dan Dani Pedrosa, dia juga menjadi bagian dari salah satu tim paling terkenal dalam olahraga ini: Repsol Honda.

Dia tak membuang waktu untuk membuktikan bahwa dia ditakdirkan untuk berada di liga utama dengan meraih podium pada debutnya di balapan pembuka musim di Qatar, dan menang balapan kedua di Circuit of the Americas di Texas, Amerika Serikat.
Sang Juara

Marc mengingat hari-harinya di awal berkarier di MotoGP dan hal yang paling membahagiakannya adalah bertemu dengan pria yang menjadi idola baginya saat itu: Valentino Rossi.

Setelah itu, Márquez tidak bisa dihentikan dan ia naik podium hampir di semua musim, kalahkan Jorge Lorenzo, Valentino Rossi, hingga di usianya yang baru 25 tahun, ia menjadi pembalap termuda dalam sejarah yang memenangkan tujuh gelar juara dunia dan lima gelar juara di kelas utama.

Tahun 2019, musim yang dominan bagi Márquez, dia meraih 12 kemenangan dalam 19 balapan musim ini, kalahkan Andrea Dovizioso dari Ducati dengan selisih 151 poin.

Berkompetisi di balapan motor amat berbahaya dan sangat sedikit pembalap yang bisa menyelesaikan kariernya tanpa mengalami cedera. Tak terkecuali Márquez. Akhir musim 2018, dia harus menjalani operasi bahunya.

Memang jiwa balap merasuk terus, hingga belum tuntas cidera cederanya memburuk pada balapan pembuka musim MotoGP 2020 di Jerez, Spanyol, Márquez jatuh di dari motornya dan mendarat dengan buruk di gravel trap. Tulang humerus (lengan atas) di lengan kanannya patah dan ia harus segera menjalani operasi.

Pemulihannya berlangsung hingga awal musim 2021, ia absen di dua putaran pembuka, berkompetisi dalam 14 balapan berikutnya, mengklaim tiga kemenangan, tapi ketika jelas bahwa dia tidak akan memenangkan gelar, Marquez mengundurkan diri dari dua balapan terakhir, karena lengan kanannya masih belum pulih.

Balapan kedua musim 2022, Márquez terjatuh tiga kali saat latihan dan keempat kalinya saat pemanasan sebelum balapan. Kecelakaan keempat, paling keras dan ia dilarikan ke rumah sakit. Dia tidak mengalami cedera, tetapi dinyatakan tidak layak untuk balapan.

Pada pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa Márquez menderita diplopia (penglihatan ganda), yang juga membutuhkan operasi. Kemudian menjalani operasi keempat pada tulang humerusnya, kali ini untuk memperbaiki rotasi tulang sebesar 30 derajat. Ia akhirnya kembali untuk mengikuti enam balapan terakhir musim ini dan berhasil meraih posisi kedua di Phillip Island, Australia, yang merupakan podium ke-100 dalam karirnya.

Saatnya bagi Marc untuk merenungkan tentang tahun yang telah membuatnya mengambil beberapa keputusan paling sulit dalam hidupnya.

visordown com

Rekor yang berlimpah
Tidak mengherankan jika dengan semua kesuksesan ini, bersama dengan trofi-trofi yang diraihnya, Márquez telah memperoleh lebih dari beberapa rekor dalam olahraga ini.

Prestasi yang digores Marquez, posisi terdepan terbanyak di semua kelas, kemenangan terbanyak di musim debut, kemenangan terbanyak dalam satu musim, posisi terdepan terbanyak dalam satu musim, dan masih banyak lagi.

Dia juga mengoleksi banyak rekor; pemenang balapan termuda, pembalap termuda yang meraih 100 podium, dan Juara Dunia MotoGP termuda.

Tidak ada yang mengendarai motor seperti Marc! Ia meraih sukses besar, tentu ada jaringan pendukung yang amat kuat.

Dua keluarga yang mendukung saya – ibu, ayah, dan saudara laki-laki saya, serta tim balap saya.”

Ayahnya, dan ibunya selalu hadir di setiap balapan. Marc juga dekat dengan saudara laki-lakinya, Alex, sekaligus jadi pesaingnya di MotoGP.

Sebagai juara dunia bertahan, Marc Marquez sudah pasti difavoritkan untuk menyabet gelar dunia lagi di MotoGP 2026. Jika berhasil, maka ia akan patahkan sebuah rekor spesial Mick Doohan dan Giacomo Agostini.

Usai mengunci gelar dunia MotoGP 2025 di Motegi, Jepang, akhir September lalu, Marquez tercatat sebagai juara dunia kelas premier (GP500/MotoGP) tertua kelima, dalam usia 32 tahun 223 hari.

Selamat Ulang Tahun Marc Maquez

(adm/amr)

Berita Olahraga Lainnya :