iMSPORT.TV – Ternyata, dua puluh tahun kemudian, Zhang Xue mengguncang dunia balap motor. Melalui ZXMOTO, ia mencatatkan sejarah. Memenangi balapan kelas dunia, FIM WorldSSP.
Kemenangan ini sekaligus jadi simbol runtuhnya dominasi panjang pabrikan besar seperti, Ducati, Yamaha, dan Kawasaki.
Zhang sangat bangga dengan hasil balapan itu. Sebab itu seperti membalikkan stigma dunia terhadap produk sepeda motor Tiongkok selama ini.
Tiongkok mungkin boleh bersaing dalam hal teknologi mobil listrik. Tapi tidak di dunia motor. Stigma motor Tiongkok masih kelas dua dan tiga, di bawah pabrikan Jepang, masih melekat.

Hidup Miskin, Umur 14 Tahun Drop Out dan Jadi Mekanik
Perjalanan Zhang Xue bisa membawa ZXMoto sampai di titik ini, bukan dimulai dari fasilitas lengkap atau pendidikan tinggi.
Ia lahir (1987) di sebuah rumah sederhana dari tanah liat di pedesaan Hunan. Orang tuanya bercerai, dan sejak kecil ia sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan. Bersama adiknya, bahkan harus menutup celah rumah dengan plastik agar tidak bocor saat hujan.
Kondisi itu memaksanya dewasa” lebih cepat. Di usia 14 tahun, ia memutuskan berhenti sekolah dan mulai bekerja di bengkel. Hidupnya diisi dengan suara mesin, bau oli, dan tangan yang selalu kotor. Tak jarang ia tidur di tempat kerja, menyimpan setiap yuan yang didapat. Rasanya seperti tak punya pilihan lain selain terus bertahan di jalur itu.
Dalam sebuah wawancara, Zhang Xue bukannya tak pernah berpikir untuk berganti karier saat masih muda. Jawabannya sederhana dan menyentuh: bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak punya kesempatan.
Dari keterbatasan itulah justru ia mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang; punya pemahaman mendalam tentang motor, termasuk dari sisi paling dasar.
Ia melihat bagaimana motor rusak, bagian mana yang paling rentan, dan kesalahan desain apa yang sering terjadi. Pengetahuan praktis itu kelak jadi fondasi penting saat ia mulai membangun motornya sendiri.
Zhang Xue Pendiri ZXMoto Wujudkan Mimpi Anak Desa di Balapan Dunia

Sempat Jadi Pembalap, Meskipun Gagal
Pada 2009, Zhang pindah ke Zhejiang, dan bekerja di perusahaan Apollo. Ia mulai mengenal dunia balap secara lebih serius. Belajar mengendarai motor dengan teknik profesional, ikut berbagai kompetisi amatir, dan perlahan kumpulkan pengalaman serta beberapa kemenangan.
Keteguhan itu bukan sekadar kata-kata. Dalam satu kesempatan, ia menunjukkan kemampuannya membongkar dan merakit mesin motor dalam kondisi mata tertutup, dalam waktu hanya satu jam. Itu bukan trik, melainkan hasil dari bertahun-tahun hidup di dunia mesin.
Namun, akhinrya Zhang Xue sempat berada di persimpangan, jadi pembalap, mekanik, atau pencipta kendaraan? Akhirnya diputuskan, setengah pembalap, setengah pengusaha.
Titik pentingnya kemudian terjadi pada 2013. Zhang bersama istrinya, Chen Xingyi, datang ke Chongqing—pusat industri motor Tiongkok—dengan hanya 20.000 yuan. Seluruh uang itu langsung dihabiskan untuk membeli komponen dan merakit motor sesuai visinya sendiri.
Pada 2017, ia ikut mendirikan Kove Moto, yang menjadi salah satu tonggak penting dalam kariernya. Setahun kemudian (2018), Kove Moto meluncurkan motor produksi pertamanya, 500X, dan terjual sekitar 800 unit dalam satu tahun.
Sejak saat itu Zhang mulai mendapatkan penghasilan sekitar 10.000 yuan per bulan. Menurut istrinya, mereka merasakan bahwa kehidupannya mulai membaik.
Meski bisnis mulai stabil, Zhang tak pernah meninggalkan mimpinya sebagai pembalap. Pada 2023, ia memimpin Kove mengikuti Dakar Rally, dan mencatat sejarah sebagai pabrikan pertama yang seluruh motornya berhasil finis pada percobaan pertama.
Di tahun yang sama, ia turun langsung dalam Taklimakan Rally di Tiongkok. Dalam salah satu etape, ia ditabrak kendaraan off-road. Ia kehilangan kesadaran dan mengalami patah jari. Setelah sadar, ia tetap melanjutkan balapan dan menyelesaikan etape hari itu.

Keputusan Keluar dari Kove Moto
Di Kove Moto, Zhang berambisi mengembangkan mesin sendiri. Namun, rekan-rekannya lebih memilih pendekatan yang lebih aman. Rencana Zhang ditolak. Ia pun mengambil langkah berani. Pinjam 10 juta yuan secara pribadi dari perusahaan.
Zhang akhirnya berhasil. Maret 2024, Zhang mundur dari perusahaan yang ia dirikan dan meninggalkan kepemilikan saham yang besar. Tak lama setelah keluar, Zhang Xue mendirikan ZXMoto. Dalam waktu satu tahun, perusahaan ini meluncurkan model 500RR dan mulai melakukan pengiriman ke pasar. Nilai output produksinya mencapai 750 juta yuan.
Menjelang peluncuran, perusahaan menghadapi krisis serius. Zhang tak punya cukup dana untuk bayar gaji karyawan. Lagi-lagi pinjam sana-sini, akhirnya bisa bayar karyawan dan bisa pertahankan operasional. Motor pertama berhasil terjual, dan perusahaan selamat dari krisis.

Mimpi Membawa Motor Tiongkok Merajai Dunia
Motor yang memenangkan balapan di Portugal, ZXMoto 820RR-RS, pada dasarnya hampir identik dengan versi produksi yang dijual ke konsumen dengan harga sekitar 43.800 yuan (sekitar Rp108 juta).
Harga itu jauh lebih murah dibanding motor dari pabrikan Jepang dan Eropa. Keunggulan utama ZXMoto terletak pada bobot yang ringan dan pengaturan performa yang optimal. Ini memberikan keunggulan dalam pengereman dan akselerasi keluar tikungan.
Motor ini mampu mengungguli dua motor Yamaha dalam pengereman dan keluar tikungan berkat torsi rendah yang lebih baik.
Pembalap Prancis Debise, yang mengendarai motor tersebut, mengaku langsung merasakan kualitasnya sejak pertama kali mencoba, bahkan menyatakan bahwa biasanya uji coba awal selalu diikuti berbagai masalah, tetapi kali ini tidak ada sama sekali.
Kemenangan di Portugal langsung berdampak besar terhadap pasar. Pre-order ZXMoto meningkat hingga 200 persen dalam tiga hari. Dealer ZXMoto dibanjiri permintaan. Siaran langsung penjualan menarik ribuan penonton. Bahkan merchandise edisi terbatas terjual habis.
Kini Zhang, berambisi untuk masuk ke ajang yang lebih besar seperti, Dakar dan MotoGP. Ia juga memprediksi bahwa dalam lima tahun ke depan, merek-merek Tiongkok dapat menguasai 50 bahkan 70% pasar global motor besar.
Namun, ia tetap realistis terhadap kekurangan yang ada dan mengakui bahwa pembalap Tiongkok masih belum cukup kompetitif, karena tidak adanya sistem pelatihan dan budaya balap yang kuat.
Zhang pun mencoba mengatasi hal itu dengan membuat program pembinaan. Ia siapkan hadiah tahunan sebesar satu juta yuan untuk memotivasi pembalap muda Tiongkok yang berlaga di tingkat internasional.
Selama 20 tahun perjalanan hidupnya, Zhang mengaku tidak pernah benar-benar menyerah. Bahkan di masa-masa paling sulit sekalipun, ia selalu menemukan cara untuk terus melangkah.
(adm/amr)
Berita Olahraga Lainnya :
